tugas ini mencakup makala,puisi,hingga hasil ujian praktek.
MAKALA
ORGANISASI PEMUDA ZAMAN
PERGERAKAN NASIONAL

Disusun oleh:
1.FRANSISCO
2.RAHMA YUDA
3.YOLANDA HERLINA
4.HALIMA TUSAIDA
5.YORES ADE PIO
6.EDI WIJAYA
7.DENI AFRIANSAH
Guru pembimbing:
IIS NURMALASARI.S.pd
SMP N 1 LEBONG SELATAN
PROGRAM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
TAHUN AJARAN 2017
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami bisa selesaikan makalah ilmiah mengenai limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.
Makalah ilmiah ini sudah selesai kami susun dengan maksimal dengan bantuan pertolongan dari berbagai pihak sehingga bisa memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang sudah ikut berkontribusi didalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari seutuhnya bahwa masih jauh dari kata sempurna baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, kami terbuka untuk menerima segala masukan dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca sehingga kami bisa melakukan perbaikan makalah ilmiah sehingga menjadi makalah yang baik dan benar.
Akhir kata kami meminta semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakan ini bisa memberi ma mafaat utaupun inpirasi pada pembaca.
. Lebong, oktober 2017
. Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..................................................................................................... ...1
KATA PENGANTAR......................................................................................................2
DAFTAR ISI.................................................................................................. ...................3
BAB I PENDAHULUAN......................................................................... .......................4
LATAR BELAKANG................................................................................ .................... 4
RUMUSAN MASALAH............................................................................... ..................5
TUJUAN....................................................................................................... ....................5
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................6
Tri Koro Dharmo..............................................................................................................6
Jong Sumatranen Bond.....................................................................................................8
Organisasi Pemuda di daerah lain...................................................................................10
Organisasi Kepanduan........................................................................ .............................13
Organisasi pemuda yang lahir menjelang Sumpah Pemuda.........................................14
BAB III PENUTUP ...........................................................................................................16
KESIMPULAN.................................................................................................................16
SARAN..............................................................................................................................16
1. 1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak menginjakkan kakinya di bumi Indonesia pada tahun 1956, penjajah Belanda kurang memperhatikan kesejahteraan golongan pribumi (orang-orang Indonesia). Mereka terus mengeruk kekayaan alam dan menindas rakyat Indonesia, tanpa mau memperhatikan nasib rakyat itu sendiri. Pada akhir abad ke-19, C.Th.van Deventer salah satu karangannya yang berjudul Utang Budi. C.Th van Deventer antara lain menyetakan bahwa kemakmuran Belanda diperoleh berkat kerja dan jasa orang Indonesia. Oleh sebab itu, mengkritik keadaan itu melalui bangsa Belanda sebagai bangsa yang maju dan bermoral harus membayar utang budi kepada bangsa Indonesia. Caranya adalah dengan menjalankan Politik Balas Budi atau dikenal dengan sebutan Politik Etis. Politik Etis yang diuslkan olehC.Th van Deventer berisi tentang perbaikanperbaikan dalam bidang irigasi (pengairan), transmigrasi (perpindahan), dan edukasi (pendidikan). Akan tetapi pelaksanaannya tidak terlepas dari kepentingan pemerintah Hindia Belanda. Politik Etis sebenarnya merupakan bentuk penjajahan kebudayaan yang halus sekali. Program edukasi itu sendiri sebenarnya merupakan pelaksanaan dari Politik Asosiasi yang berarti penggantian kebudayaan asli tanah jajahan dengan kebudayaan penjajah. Walaupun menyimpang dari tujuan semula, beberapa pelaksanaan dari Politik Etis telah membawa pengaruh yang baik. Misalnya, dengan didirikannya sekolah-sekolah untuk golongan pribumi. Tujuannya adalah untuk memperoleh tenaga baru pegawai rendah yang bersedia digaji lebih murah dari pada tenaga bangsa-bangsa Belanda. Banyaknya penduduk pribumi yang bersekolah telah menghasilkan kaum cerdik pandai dikalangan penduduk pribumi. Kaum cerdik pandai inilah yang mempelopori kesadaran kebangsaan, yaitu suatu kesadaran tentang perlunya persatuan dan kesatuan bangsa. Peristiwa timbulnya kesadaran berbangsa disebut Kebangkitan Nasional Indonesia. Kaum cerdik pandai ini pula yang mempelopori dan memimpin pergerakan nasional pada awal abad ke-20
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perkembangan pergerakan nasional Indonesia (Budi Utomo, Sarekat Dagang Islam, Indische Partij, Partai Nasional Indonesia, Usaha Mempersatukan Partai-Partai, Pergerakan Kaum Wanita, Sumpah Pemuda).
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Sebagai pemenuhan tugas mata pelajaran Sejarah Nasional Indonesia.
2. Untuk memperluas wawasan pengetahuan tentang pergerakan nasional Indonesia
1.2 BAB II PEMBAHASAN
1.2 BAB II PEMBAHASAN
1.2.1 Tri Koro Dharmo
Sejak Boedi Oetomo beralih tangan dari golongan muda ke golongan tua pada kongres pertamanya pada 5 Oktober 1908, timbul rasa ketidakpuasan di kalangan generasi muda. Ketidakpuasan itu didasarkan pada gerak-langkah Boedi Oetomo yang cenderung konservatif dan kurang menampung aspirasi para pemuda. Atas dasar itu, para pemuda membentuk suatu perkumpulan sendiri yang dapat dijadikan tempat para pemuda dapat dididik untuk memenuhi kewajibannya di kelak kemudian hari. (SNI V, hal 190)
7 Maret 1915, bertempat di Gedung Boedi Oetomo Stovia Jakarta, para pemuda sepakat untuk mendirikan organisasi pemuda yang berfungsi sebagai tempat latihan bagi calon-calon pemimpin bangsa atas dasar kecintaan kepada tanah airnya. Perkumpulan para pemuda itu diberi nama Tri Koro Dharmo, yang mengandung arti tiga tujuan yang mulia. Jabatan ketua diemban oleh oleh Satiman Wirjosandjojo, wakil ketuan Soenardi (Mr.Wongsonegoro), dan sekertaris Soetomo. Pengurus lain diantaranya adalah Muslich, Musodo, dan Abdul Rachman.
Sesuai dengan namanya, Tri Koro Dharmo memiliki tujuan, yaitu: Menjalin pertalian antara murid-murid bumi putera pada sekolah menengah, kursus perguruan kejuruan dan sekolah vak, menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya, membangkitkan dan mempertajam perasaan buat segala bahasa dan kebudayaan Hindia (Indonesia). Hal ini dilakukan antara lain dengan menyelenggarakan berbagai pertemuan dan kursus, mendirikan lembaga yang memberi beasiswa, menyelenggarakan berbagai pertunjukan kesenian, serta menerbitkan majalah Tri Koro Dharmo.
Pada 12 Juni 1918, Tri Koro Dharmo yang sejak 1917 diketuai oleh Sutardiaryodirejo melakukan kongres di Solo. Kongres itu menghasilkan dua keputusan, yaitu tentang ruang lingkup keanggotaan dan nama organisasi, serta mengenai kepengurusannya. Nama Tri Koro Dharmo yang sangat jawasentris diganti dengan nama Jong Java. Dengan begitu diharapkan pemuda-pemuda Sunda, Madura, Bali, dan Lombok diharapkan bisa ikut memasuki organisasi tersebut. Tujuan pengubahan organisasi adalah untuk membangun persatuan Jawa Raya, yang dapat dicapai dengan jalan mengadakan suatu ikatan yang baik di antara murid-murid sekolah menengah, berusaha meningkatkan kepandaian anggotanya, dan menimbulkan rasa cinta terhadap budaya sendiri. Dalam kongres itu, dipilihlah Sukiman Wirjosandjojo sebagai ketua. Beliau inilah yang di kemudian hari terpilih menjadi ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda.
Sampai kongres terakhirnya pada 23 Desember 1929, Jong Java telah sepuluh kali melakukan kongres, dan menghasilkan keputusan-keputusan penting yang sangat berpengaruh terhadap perjuangan para pemuda di masa selanjutnya. Keputusan-keputusan tersebut diantaranya adalah :
Disetujuinya seorang wanita untuk duduk dalam pengurus besar dan anggota redaksi majalah Jong Java, serta usaha untuk menterjemahkan surat-surat yang ditulis oleh Kartini. Ini berarti pengakuan hak wanita disamakan dengan pria sebagai kelanjutan usaha emansipasi Kartini.
Pada kongres ketiganya, bahasa-bahasa daerah seperti Jawa, Bali, Sunda, Makasar, dan Lombok boleh dipergunakan, asalkan dengan diterjemahkan dalam bahasa Belanda.
Adanya cita-cita untuk membangun Jawa Raya dengan jalan membina persatuan diantara golongan-golongan di Jawa dan Madura untuk mencapai kemakmuran bersama. Walaupun masih sebatas Jawa dan Madura, hal tersebut menjadi bibit awal bagi terbentuknya integrasi bangsa.
Pada kongres Mei 1922 dan kongres luar biasa Desember 1922, dipertegas bahwa Jong Java tidak akan mencampuri aksi atau propaganda di bidang politik. Jong Java tetap hanya akan bergerak di masalah sosial, budaya, dan pendidikan saja. Jong Java hanya akan mengadakan hubungan antara murid-murid sekolah menengah, mempertinggi perasaan terhadap budaya sendiri, menambah pengetahuan umum anggotanya, dan menggiatkan olahraga. Raden Samsurijal, ketua Jong Java pada Kongres VI di Yogyakarta, mengusulkan agar Jong Java ikut bergerak di bidang politik dan lebih mengutamakan program memajukan Islam. Namun kedua usulan tersebut ditolak, sehingga ia mengundurkan diri dari Jong Java dan membentuk Jong Islamieten Bond.
Setelah kongres pemuda I pada tahun 1926, faham persatuan dan kebangsaan Indonesia semakin meningkat di kalangan anggota Jong Java. Pada kongres VII 27-31 Desember 1926 di Surakarta, Jong Java yang diketuai Sunardi Djaksodipuro (Mr.Wongsonegoro) membuat putusan untuk merubah tujuan dan ruang gerak organisasi tersebut. Tujuan tidak hanya membangun Jawa Raya saja, tetapi pada saatnya nanti, Jong Java juga harus bercita-cita membangun persatuan dan membangun Indonesia Merdeka. Ruang lingkup yang dirambah organisasi tersebut juga mulai memasuki dunia Politik, setelah adanya putusan bahwa anggota yang berusia lebih dari 18 tahun boleh mengikuti rapat-raapat politik, sedangkan yang di bawah 18 tahun hanya boleh mengikuti kegiatan-kegiatan dalam seni, olah raga, dan kepanduan. (Cahyo, B.U, hal 119)
Pada tahun 1928, organisasi ini siap bergabung dengan organisasi kepemudaan lainnya dan ketuanya R. Koentjoro Poerbopranoto, menegaskan kepada anggota bahwa pembubaran Jong Java, semata-mata demi tanah air. Oleh karena itu, maka terhitung sejak tanggal 27 Desember 1929, Jong Javapun bergabung dengan Indonesia Moeda
Sejak Boedi Oetomo beralih tangan dari golongan muda ke golongan tua pada kongres pertamanya pada 5 Oktober 1908, timbul rasa ketidakpuasan di kalangan generasi muda. Ketidakpuasan itu didasarkan pada gerak-langkah Boedi Oetomo yang cenderung konservatif dan kurang menampung aspirasi para pemuda. Atas dasar itu, para pemuda membentuk suatu perkumpulan sendiri yang dapat dijadikan tempat para pemuda dapat dididik untuk memenuhi kewajibannya di kelak kemudian hari. (SNI V, hal 190)
7 Maret 1915, bertempat di Gedung Boedi Oetomo Stovia Jakarta, para pemuda sepakat untuk mendirikan organisasi pemuda yang berfungsi sebagai tempat latihan bagi calon-calon pemimpin bangsa atas dasar kecintaan kepada tanah airnya. Perkumpulan para pemuda itu diberi nama Tri Koro Dharmo, yang mengandung arti tiga tujuan yang mulia. Jabatan ketua diemban oleh oleh Satiman Wirjosandjojo, wakil ketuan Soenardi (Mr.Wongsonegoro), dan sekertaris Soetomo. Pengurus lain diantaranya adalah Muslich, Musodo, dan Abdul Rachman.
Sesuai dengan namanya, Tri Koro Dharmo memiliki tujuan, yaitu: Menjalin pertalian antara murid-murid bumi putera pada sekolah menengah, kursus perguruan kejuruan dan sekolah vak, menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya, membangkitkan dan mempertajam perasaan buat segala bahasa dan kebudayaan Hindia (Indonesia). Hal ini dilakukan antara lain dengan menyelenggarakan berbagai pertemuan dan kursus, mendirikan lembaga yang memberi beasiswa, menyelenggarakan berbagai pertunjukan kesenian, serta menerbitkan majalah Tri Koro Dharmo.
Pada 12 Juni 1918, Tri Koro Dharmo yang sejak 1917 diketuai oleh Sutardiaryodirejo melakukan kongres di Solo. Kongres itu menghasilkan dua keputusan, yaitu tentang ruang lingkup keanggotaan dan nama organisasi, serta mengenai kepengurusannya. Nama Tri Koro Dharmo yang sangat jawasentris diganti dengan nama Jong Java. Dengan begitu diharapkan pemuda-pemuda Sunda, Madura, Bali, dan Lombok diharapkan bisa ikut memasuki organisasi tersebut. Tujuan pengubahan organisasi adalah untuk membangun persatuan Jawa Raya, yang dapat dicapai dengan jalan mengadakan suatu ikatan yang baik di antara murid-murid sekolah menengah, berusaha meningkatkan kepandaian anggotanya, dan menimbulkan rasa cinta terhadap budaya sendiri. Dalam kongres itu, dipilihlah Sukiman Wirjosandjojo sebagai ketua. Beliau inilah yang di kemudian hari terpilih menjadi ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda.
Sampai kongres terakhirnya pada 23 Desember 1929, Jong Java telah sepuluh kali melakukan kongres, dan menghasilkan keputusan-keputusan penting yang sangat berpengaruh terhadap perjuangan para pemuda di masa selanjutnya. Keputusan-keputusan tersebut diantaranya adalah :
Disetujuinya seorang wanita untuk duduk dalam pengurus besar dan anggota redaksi majalah Jong Java, serta usaha untuk menterjemahkan surat-surat yang ditulis oleh Kartini. Ini berarti pengakuan hak wanita disamakan dengan pria sebagai kelanjutan usaha emansipasi Kartini.
Pada kongres ketiganya, bahasa-bahasa daerah seperti Jawa, Bali, Sunda, Makasar, dan Lombok boleh dipergunakan, asalkan dengan diterjemahkan dalam bahasa Belanda.
Adanya cita-cita untuk membangun Jawa Raya dengan jalan membina persatuan diantara golongan-golongan di Jawa dan Madura untuk mencapai kemakmuran bersama. Walaupun masih sebatas Jawa dan Madura, hal tersebut menjadi bibit awal bagi terbentuknya integrasi bangsa.
Pada kongres Mei 1922 dan kongres luar biasa Desember 1922, dipertegas bahwa Jong Java tidak akan mencampuri aksi atau propaganda di bidang politik. Jong Java tetap hanya akan bergerak di masalah sosial, budaya, dan pendidikan saja. Jong Java hanya akan mengadakan hubungan antara murid-murid sekolah menengah, mempertinggi perasaan terhadap budaya sendiri, menambah pengetahuan umum anggotanya, dan menggiatkan olahraga. Raden Samsurijal, ketua Jong Java pada Kongres VI di Yogyakarta, mengusulkan agar Jong Java ikut bergerak di bidang politik dan lebih mengutamakan program memajukan Islam. Namun kedua usulan tersebut ditolak, sehingga ia mengundurkan diri dari Jong Java dan membentuk Jong Islamieten Bond.
Setelah kongres pemuda I pada tahun 1926, faham persatuan dan kebangsaan Indonesia semakin meningkat di kalangan anggota Jong Java. Pada kongres VII 27-31 Desember 1926 di Surakarta, Jong Java yang diketuai Sunardi Djaksodipuro (Mr.Wongsonegoro) membuat putusan untuk merubah tujuan dan ruang gerak organisasi tersebut. Tujuan tidak hanya membangun Jawa Raya saja, tetapi pada saatnya nanti, Jong Java juga harus bercita-cita membangun persatuan dan membangun Indonesia Merdeka. Ruang lingkup yang dirambah organisasi tersebut juga mulai memasuki dunia Politik, setelah adanya putusan bahwa anggota yang berusia lebih dari 18 tahun boleh mengikuti rapat-raapat politik, sedangkan yang di bawah 18 tahun hanya boleh mengikuti kegiatan-kegiatan dalam seni, olah raga, dan kepanduan. (Cahyo, B.U, hal 119)
Pada tahun 1928, organisasi ini siap bergabung dengan organisasi kepemudaan lainnya dan ketuanya R. Koentjoro Poerbopranoto, menegaskan kepada anggota bahwa pembubaran Jong Java, semata-mata demi tanah air. Oleh karena itu, maka terhitung sejak tanggal 27 Desember 1929, Jong Javapun bergabung dengan Indonesia Moeda
1.2.2 Jong Sumatranen Bond
Berdirinya Jong Java di Batavia memberikan inspirasi bagi pemuda-pemuda Sumatra yang sedang belajar di Batavia untuk mendirikan organisasi serupa. Jong Sumatranen Bond (JSB) adalah perkumpulan yang bertujuan untuk mempererat hubungan di antara murid-murid yang berasal dari Sumatra, mendidik pemuda Sumatra untuk menjadi pemimpin bangsa serta mempelajari dan mengembangkan budaya Sumatra. Untuk mecapai tujuan tersebut, usaha-usaha yang dilakukan antara lain adalah dengan menghilangkan adanya prasangka etnis di kalangan orang Sumatra, memperkuat perasaan saling membantu, serta bersama-sama mengangkat derajat penduduk Sumatra dengan jalan menggunakan propaganda, kursus, ceramah-ceramah, dan sebagainya.
Perkumpulan ini didirikan pada tanggal 9 Desember 1917 di Jakarta. JSB memiliki delapan cabang, enam di Jawa meliputi Batavia, Bogor, Bandung, Serang, Sukabumi, dan Purworejo, serta dua di Sumatra, yakni di Padang dan Bukittinggi. Beberapa tahun kemudian, para pemuda Batak keluar dari perkumpulan ini dikarenakan dominasi pemuda Minangkabau dalam kepengurusannya. Para pemuda Batak ini membentuk perkumpulan sendiri, Jong Batak.
Kelahiran JSB pada mulanya banyak diragukan orang. Salah satu diantaranya ialah redaktur surat kabar Tjaja Sumatra, Said Ali, yang mengatakan bahwa Sumatra belum matang bagi sebuah politik dan umum. Tanpa menghiraukan suara-suara miring itu, anak-anak Sumatra tetap mendirikan perkumpulan sendiri. Kaum tua di Minangkabau menentang pergerakan yang dimotori oleh kaum muda ini. Mereka menganggap gerakan modern JSB sebagai ancaman bagi adat Minang. Aktivis JSB, Bahder Djohan menyorot perbedaan persepsi antara dua generasi ini pada edisi perdana surat kabar Jong Sumatra.
Surat kabar Jong Sumatra terbit pertama kali pada bulan Januari 1918. Dengan jargon Organ van Den Jong Sumatranen Bond, surat kabar ini terbit secara berkala dan tidak tetap, kadang bulanan, kadang triwulan, bahkan pernah terbit setahun sekali. Bahasa Belanda merupakan bahasa mayoritas yang digunakan kendati ada juga artikel yang memakai bahasa Melayu. Jong Sumatra dicetak di Weltevreden, Batavia, sekaligus pula kantor redaksi dan administrasinya.
Mulanya, dewan redaksi Jong Sumatra juga merupakan pengurus (centraal hoofbestuur) JSB. Mereka itu adalah Tengkoe Mansyur (ketua), A. Munir Nasution (wakil ketua), Mohamad Anas (sekretaris I), Amir (sekretaris II), dan Marzoeki (bendahara), serta dibantu beberapa nama lain. Keredaksian Jong Sumatra dipegang oleh Amir, sedangkan administrasi ditangani Roeslie. Mereka ini rata-rata adalah siswa atau alumni STOVIA serta sekolah pendidikan Belanda lainnya. Setelah beberapa edisi, keredaksian Jong Sumatra dipisahkan dari kepengurusan JSB meski tetap ada garis koordinasi. Pemimpin redaksi pertama adalah Mohammad Amir dan pemimpin perusahaan dijabat Bahder Djohan.
Surat kabar Jong Sumatra memainkan peranan penting sebagai media yang menjembatani segala bentuk reaksi atas konflik yang terjadi. Dalam Jong Sumatra edisi 12, th 1, Desember 1918, seseorang berinisial Lematang mempertanyakan kepentingan kaum adat. Sambutan positif juga datang dari Mohamad Anas, sekretaris JSB. Anas mengatakan dengan lantang bahwa bangsa Sumatra sudah mulai bangkit dari ketidurannya, dan sudah mulai memandang keperluan umum.
Sumatra memang dikenal banyak menghasilkan jago-jago pergerakan, dan banyak di antaranya yang mengawali karier organisasinya melalui JSB, seperti Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin. Hatta adalah bendahara JSB di Padang 1916-1918. Kemudian ia menjadi pengurus JSB Batavia pada 1919 dan mulai mengurusi Jong Sumatra sejak 1920 hingga 1921. Selama di Jong Sumatra inilah Hatta banyak menuangkan segenap alam pikirannya, salah satunya lewat karangan berjudul “Hindiana” yang dimuat di Jong Sumatra no 5, th 3, 1920. Sedangkan Mohammad Yamin adalah salah satu putra Sumatra yang paling dibanggakan. Karya-karyanya yang berupa esai ataupun sajak sempat merajai Jong Sumatra. Ia memimpin JSB pada 1926-1928 dan dengan aktif mendorong pemikiran tentang perlunya bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan. Kepekaan Yamin meraba pentingnya bahasa identitas sudah mulai terlihat dalam tulisannya di Jong Sumatra no 4, th 3, 1920. Jong Sumatra berperan penting dalam memperjuangkan pemakaian bahasa nasional, dengan menjadi media yang pertama kali mempublikasikan gagasan Yamin, mengenai bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.
Semakin besarnya kesadaran nasional dan semakin luasnya penggunaan bahasa melayu di kalangan mereka, maka nama organisasi yang sebelumnya masih menggunakan bahasa Belanda, diganti dengan nama Pemuda Sumatra. Pemuda Sumatra ini memberikan andil cukup besar dalam memperkuat kesadaran berbangsa, khususnya di kalangan pemuda.
Berdirinya Jong Java di Batavia memberikan inspirasi bagi pemuda-pemuda Sumatra yang sedang belajar di Batavia untuk mendirikan organisasi serupa. Jong Sumatranen Bond (JSB) adalah perkumpulan yang bertujuan untuk mempererat hubungan di antara murid-murid yang berasal dari Sumatra, mendidik pemuda Sumatra untuk menjadi pemimpin bangsa serta mempelajari dan mengembangkan budaya Sumatra. Untuk mecapai tujuan tersebut, usaha-usaha yang dilakukan antara lain adalah dengan menghilangkan adanya prasangka etnis di kalangan orang Sumatra, memperkuat perasaan saling membantu, serta bersama-sama mengangkat derajat penduduk Sumatra dengan jalan menggunakan propaganda, kursus, ceramah-ceramah, dan sebagainya.
Perkumpulan ini didirikan pada tanggal 9 Desember 1917 di Jakarta. JSB memiliki delapan cabang, enam di Jawa meliputi Batavia, Bogor, Bandung, Serang, Sukabumi, dan Purworejo, serta dua di Sumatra, yakni di Padang dan Bukittinggi. Beberapa tahun kemudian, para pemuda Batak keluar dari perkumpulan ini dikarenakan dominasi pemuda Minangkabau dalam kepengurusannya. Para pemuda Batak ini membentuk perkumpulan sendiri, Jong Batak.
Kelahiran JSB pada mulanya banyak diragukan orang. Salah satu diantaranya ialah redaktur surat kabar Tjaja Sumatra, Said Ali, yang mengatakan bahwa Sumatra belum matang bagi sebuah politik dan umum. Tanpa menghiraukan suara-suara miring itu, anak-anak Sumatra tetap mendirikan perkumpulan sendiri. Kaum tua di Minangkabau menentang pergerakan yang dimotori oleh kaum muda ini. Mereka menganggap gerakan modern JSB sebagai ancaman bagi adat Minang. Aktivis JSB, Bahder Djohan menyorot perbedaan persepsi antara dua generasi ini pada edisi perdana surat kabar Jong Sumatra.
Surat kabar Jong Sumatra terbit pertama kali pada bulan Januari 1918. Dengan jargon Organ van Den Jong Sumatranen Bond, surat kabar ini terbit secara berkala dan tidak tetap, kadang bulanan, kadang triwulan, bahkan pernah terbit setahun sekali. Bahasa Belanda merupakan bahasa mayoritas yang digunakan kendati ada juga artikel yang memakai bahasa Melayu. Jong Sumatra dicetak di Weltevreden, Batavia, sekaligus pula kantor redaksi dan administrasinya.
Mulanya, dewan redaksi Jong Sumatra juga merupakan pengurus (centraal hoofbestuur) JSB. Mereka itu adalah Tengkoe Mansyur (ketua), A. Munir Nasution (wakil ketua), Mohamad Anas (sekretaris I), Amir (sekretaris II), dan Marzoeki (bendahara), serta dibantu beberapa nama lain. Keredaksian Jong Sumatra dipegang oleh Amir, sedangkan administrasi ditangani Roeslie. Mereka ini rata-rata adalah siswa atau alumni STOVIA serta sekolah pendidikan Belanda lainnya. Setelah beberapa edisi, keredaksian Jong Sumatra dipisahkan dari kepengurusan JSB meski tetap ada garis koordinasi. Pemimpin redaksi pertama adalah Mohammad Amir dan pemimpin perusahaan dijabat Bahder Djohan.
Surat kabar Jong Sumatra memainkan peranan penting sebagai media yang menjembatani segala bentuk reaksi atas konflik yang terjadi. Dalam Jong Sumatra edisi 12, th 1, Desember 1918, seseorang berinisial Lematang mempertanyakan kepentingan kaum adat. Sambutan positif juga datang dari Mohamad Anas, sekretaris JSB. Anas mengatakan dengan lantang bahwa bangsa Sumatra sudah mulai bangkit dari ketidurannya, dan sudah mulai memandang keperluan umum.
Sumatra memang dikenal banyak menghasilkan jago-jago pergerakan, dan banyak di antaranya yang mengawali karier organisasinya melalui JSB, seperti Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin. Hatta adalah bendahara JSB di Padang 1916-1918. Kemudian ia menjadi pengurus JSB Batavia pada 1919 dan mulai mengurusi Jong Sumatra sejak 1920 hingga 1921. Selama di Jong Sumatra inilah Hatta banyak menuangkan segenap alam pikirannya, salah satunya lewat karangan berjudul “Hindiana” yang dimuat di Jong Sumatra no 5, th 3, 1920. Sedangkan Mohammad Yamin adalah salah satu putra Sumatra yang paling dibanggakan. Karya-karyanya yang berupa esai ataupun sajak sempat merajai Jong Sumatra. Ia memimpin JSB pada 1926-1928 dan dengan aktif mendorong pemikiran tentang perlunya bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan. Kepekaan Yamin meraba pentingnya bahasa identitas sudah mulai terlihat dalam tulisannya di Jong Sumatra no 4, th 3, 1920. Jong Sumatra berperan penting dalam memperjuangkan pemakaian bahasa nasional, dengan menjadi media yang pertama kali mempublikasikan gagasan Yamin, mengenai bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.
Semakin besarnya kesadaran nasional dan semakin luasnya penggunaan bahasa melayu di kalangan mereka, maka nama organisasi yang sebelumnya masih menggunakan bahasa Belanda, diganti dengan nama Pemuda Sumatra. Pemuda Sumatra ini memberikan andil cukup besar dalam memperkuat kesadaran berbangsa, khususnya di kalangan pemuda.
1.2.3 Organisasi Pemuda di daerah lain
Setelah lahirnya Tri Koro Dharmo yang kemudian menjadi Jong Java, selain Jong Sumatranen Bond, muncullah organisasi-organisasi pemuda daerah lain yang serupa. Sejumlah organisasi pemuda kedaerahan yang muncul itu pada mulanya sempat menimbulkan persepsi akan mementingkan etnis dan lokalitas sehingga dapat menimbulkan persaingan di antara mereka, namun di selanjutnya, justru perbedaan tersebut menjadi wahana utama dalam mencapai persatuan bangsa pada Sumpah Pemuda 1928. Beberapa organisasi tersebut antara lain:
Setelah lahirnya Tri Koro Dharmo yang kemudian menjadi Jong Java, selain Jong Sumatranen Bond, muncullah organisasi-organisasi pemuda daerah lain yang serupa. Sejumlah organisasi pemuda kedaerahan yang muncul itu pada mulanya sempat menimbulkan persepsi akan mementingkan etnis dan lokalitas sehingga dapat menimbulkan persaingan di antara mereka, namun di selanjutnya, justru perbedaan tersebut menjadi wahana utama dalam mencapai persatuan bangsa pada Sumpah Pemuda 1928. Beberapa organisasi tersebut antara lain:
1.2.3.1 Jong Ambon
Organisasi Ambon Muda atau Pemuda-pemuda Ambon didirikan pada tanggal 9 Mei 1920. Maksud dan tujuannya adalah menggalang persatuan dan mempererat tali persaudaraan di kalangan pemuda-pemuda yang berasal dari daerah Ambon (Maluku). Pendirinya adalah A.J. Patty, seorang pemuda dari Maluku. Ia memperssatukan organisasi-organisasi orang ambon dengan menggunakan organisasi yang telah ia dirikan sebelumnya, Serikat Ambon, di Semarang. Karena dianggap menentang kebijakan Belanda, ia ditangkap dan diasingkan ke berbagai tempat seperti Ujung Pandang, Bengkulu, Palembang, dan Flores. Ditangkapnya Patty sedikit menyebabkan kemunduran organisasi tersebut, hingga akhirnya muncul tokoh baru, Mr. Latuharhary.
1.2.3.2 Jong Minahasa
Organisasi pemuda yang didirikan oleh para pemuda pelajar menengah yang berasal dari kelompok etnis Minahasa pada tanggal 24 April 1919 di Jakarta. Jong Minahasa artinya “Minahasa Muda” atau “Pemuda Minahasa”. Maksud dan tujuannya adalah menggalang dan mempererat persatuan dan tali persaudaraan di kalangan pemuda – pemuda (pelajar) yang berasal dari Minahasa. Organisasi ini merupakan kelanjutan dari organisasi yang didirikan sejak tahun 1912 di Semarang, yakni Rukun Minahasa. Di antara pemimpin JongMinahasa yang paling dikenal adalah Ratulangi. Berdirinya organisasi ini bermula dari kebutuhan praktis yang selalu menekan kehidupan para pemuda pelajar di perantauan. Kehidupan terpisah dari sanak keluarga dan hubungan dengan lingkungan asing dan orang-orang yang berasal dan latar belakang budaya berbeda-beda menyebabkan mereka mencari keserasian hubungan dengan ternan yang berasal dari daerah yang sarna. Dengan kata lain, organisasi pemuda ini bermula dari rasa solidaritas yang primordial itu.
Namun, sejalan dengan semakin meningkatnya rasa kesadaran nasional di antara kaum pergerakan, organisasi ini pun tidak luput dari pengaruh politik. Hal ini tampak pada keikutsertaan Jong Minahasa dalam pertemuan pemuda pada tanggal 15 November 1925 di gedung Lux Orientis di Jakarta. Pertemuan ini dihadiri oleh wakil-wakil Jong Java, JSB, Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun dan beberapa wakil dari organisasi pemuda lainnya. Dalam pertemuan ini dibicarakan kemungkinan untuk mengadakan pertemuan pemuda yang luas dan mencakup berbagai organisasi. Mereka bersepakat membentuk sebuah panitia untuk mempersiapkan “Kerapatan Besar Pemuda”, yang kelak berkembang menjadi Kongres Pemuda pertama pada tanggal 30 April 1926 di Jakarta. Organisasi Jong Minahasa ini tidak berkembang seperti organisasi pemuda lain, karena sedikitnya pemuda pelajar yang berasal dari Sulawesi. Tokohnya yang terkenal antara lain G.R. Pantouw.
Organisasi Ambon Muda atau Pemuda-pemuda Ambon didirikan pada tanggal 9 Mei 1920. Maksud dan tujuannya adalah menggalang persatuan dan mempererat tali persaudaraan di kalangan pemuda-pemuda yang berasal dari daerah Ambon (Maluku). Pendirinya adalah A.J. Patty, seorang pemuda dari Maluku. Ia memperssatukan organisasi-organisasi orang ambon dengan menggunakan organisasi yang telah ia dirikan sebelumnya, Serikat Ambon, di Semarang. Karena dianggap menentang kebijakan Belanda, ia ditangkap dan diasingkan ke berbagai tempat seperti Ujung Pandang, Bengkulu, Palembang, dan Flores. Ditangkapnya Patty sedikit menyebabkan kemunduran organisasi tersebut, hingga akhirnya muncul tokoh baru, Mr. Latuharhary.
1.2.3.2 Jong Minahasa
Organisasi pemuda yang didirikan oleh para pemuda pelajar menengah yang berasal dari kelompok etnis Minahasa pada tanggal 24 April 1919 di Jakarta. Jong Minahasa artinya “Minahasa Muda” atau “Pemuda Minahasa”. Maksud dan tujuannya adalah menggalang dan mempererat persatuan dan tali persaudaraan di kalangan pemuda – pemuda (pelajar) yang berasal dari Minahasa. Organisasi ini merupakan kelanjutan dari organisasi yang didirikan sejak tahun 1912 di Semarang, yakni Rukun Minahasa. Di antara pemimpin JongMinahasa yang paling dikenal adalah Ratulangi. Berdirinya organisasi ini bermula dari kebutuhan praktis yang selalu menekan kehidupan para pemuda pelajar di perantauan. Kehidupan terpisah dari sanak keluarga dan hubungan dengan lingkungan asing dan orang-orang yang berasal dan latar belakang budaya berbeda-beda menyebabkan mereka mencari keserasian hubungan dengan ternan yang berasal dari daerah yang sarna. Dengan kata lain, organisasi pemuda ini bermula dari rasa solidaritas yang primordial itu.
Namun, sejalan dengan semakin meningkatnya rasa kesadaran nasional di antara kaum pergerakan, organisasi ini pun tidak luput dari pengaruh politik. Hal ini tampak pada keikutsertaan Jong Minahasa dalam pertemuan pemuda pada tanggal 15 November 1925 di gedung Lux Orientis di Jakarta. Pertemuan ini dihadiri oleh wakil-wakil Jong Java, JSB, Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun dan beberapa wakil dari organisasi pemuda lainnya. Dalam pertemuan ini dibicarakan kemungkinan untuk mengadakan pertemuan pemuda yang luas dan mencakup berbagai organisasi. Mereka bersepakat membentuk sebuah panitia untuk mempersiapkan “Kerapatan Besar Pemuda”, yang kelak berkembang menjadi Kongres Pemuda pertama pada tanggal 30 April 1926 di Jakarta. Organisasi Jong Minahasa ini tidak berkembang seperti organisasi pemuda lain, karena sedikitnya pemuda pelajar yang berasal dari Sulawesi. Tokohnya yang terkenal antara lain G.R. Pantouw.
1.2.3.3 Jong Celebes (Sulawesi)
Artinya Celebes Muda atau Pemuda Celebes, yaitu organisasi pemuda-pemuda yang berasal dari seluruh pulau Celebes (Sulawesi), sehingga jangkauannya lebih luas dari Jong Minahasa. Didirikan pada tahun 1912. Maksud dan tujuannya adalah mempererat rasa persatuan dan tali persaudaraan di kalangan pemuda-pemuda (pelajar) yang berasal dari Pulau Celebes atau Sulawesi. Tokoh-tokohnya yang terkenal antara lain Arnold Mononutu, Waroruntu dan Magdalena Mokoginta atau dikenal dengan Ibu Sukanto (Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia yang pertama).
Artinya Celebes Muda atau Pemuda Celebes, yaitu organisasi pemuda-pemuda yang berasal dari seluruh pulau Celebes (Sulawesi), sehingga jangkauannya lebih luas dari Jong Minahasa. Didirikan pada tahun 1912. Maksud dan tujuannya adalah mempererat rasa persatuan dan tali persaudaraan di kalangan pemuda-pemuda (pelajar) yang berasal dari Pulau Celebes atau Sulawesi. Tokoh-tokohnya yang terkenal antara lain Arnold Mononutu, Waroruntu dan Magdalena Mokoginta atau dikenal dengan Ibu Sukanto (Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia yang pertama).
1.2.3.4 Jong Batak
Berdiri pada tahun 1926. Dikenal juga dengan nama Jong Bataks Bond, adalah perkumpulan para pemuda yang berasal dari daerah Batak (Tapanuli), yang bertujuan untuk memperat persatuan dan persaudaraan di antara para pemuda yang berasal dari daerah tadi serta turut serta memajukan kebudayaan daerah. Salah satu tokoh yang terkenan dari organisasi ini adalah Amir Sjarifudin.
Selain organisasi pemuda daerah diatas, ada pula organisasi pemuda daerah lain seperti Pemuda Betawi, Sekar Rukun, dan Pemuda Timor.
Berdiri pada tahun 1926. Dikenal juga dengan nama Jong Bataks Bond, adalah perkumpulan para pemuda yang berasal dari daerah Batak (Tapanuli), yang bertujuan untuk memperat persatuan dan persaudaraan di antara para pemuda yang berasal dari daerah tadi serta turut serta memajukan kebudayaan daerah. Salah satu tokoh yang terkenan dari organisasi ini adalah Amir Sjarifudin.
Selain organisasi pemuda daerah diatas, ada pula organisasi pemuda daerah lain seperti Pemuda Betawi, Sekar Rukun, dan Pemuda Timor.
1.2.3.5 Jong Islamieten Bond
Selain organisasi-organisasi pemuda yang berdasarkan ikatan kultural, territorial, dan etnisitas, pada awal abad XX muncul pula organisasi pemuda yang berdasarkan keagamaan. Organisasi itu adalah Jong Islamieten Bond. Berdirinya organisasi ini masih ada hubungannya dengan Jong Java. Raden Sam yang berposisi sebagai ketua, mengundurkan diri setelah pada kongres ke VI Jong Java, dua usul darinya ditolak. Ia kemudian mendirikan perkumpulan Jong Islamieten Bond ini pada 1 Januari 1925. Tujuan pertama pembentukannya adalah untuk mengadakan kursus-kursus agama Islam bagi para pelajar Islam dan untuk mengikat rasa persaudaraan antara para pemuda terpelajar Islam yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara dan sebelumnya masih menjadi anggota perkumpulan daerah, seperti Jong Java (7 Maret 1915), Jong Sumatra (9 Desember 1917), dan lain-lain. Anggotanya terbuka antara usia 14-30 tahun, sehingga tidak hanya diisi oleh para pelajar saja. Secara formal, organisasi ini tidak bergerak di bidang politik, namun bagi anggota yang berusia lebih dari 18 tahun, boleh mengikuti kegiatan politik. (Cahyo B.U, hal 124)
Kongres pertama organisasi ini dilangsungkan pada 29 Desember 1925.. dari kongres itu, ditetapkan anggaran dasar organisassi dan terumuskannya sebuah tujuan, yaitu :
Mempelajari dan mendorong hidupnya kembali agama Islam
Memupuk dan menaikkan simpati terhadap para pemeluk agama Islam dan pengikut-pengikutnya di samping toleransi terhadap golongan lain
Mengorganisasi kursus-kursus Islam, darmawisata, olahraga, dan menggunakan agama senagai pemersatu
Meningkatkan kemajuan jasmani dan rohani anggota-anggotanya dengan menahan diri dan sabar
Kongres kedua diadakan di Surakarta pada 24-26 Desember 1926 mendorong para anggotanya untuk lebih ddalam mempelajari Islam sesuai dengan asas dan tujuan organisasi. Kongres ketiga berlangsung di Yogyakarta pada 23-27 Desember 1927. Lebih banyak membicarakan masalah-masalah yang dihadapi umat Islam, terutama yang ada kaitannya dengan cita-cita persatuan dan nasionalisme.
1.2.4 Organisasi Kepanduan
Kepanduan yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama Pramuka sebernanya telah ada sejak awal abad XX dengan nama Nederlanche Padvinders Organisatie (NPO). Didirikan oleh John Smith, seorang Belanda, atas usulan dari kepanduan Belanda, sehingga bersifat Nederlandosentris.
NPO kemudian berubah nama menjadi Nederlands Indische Padvinders Vereeneging. Setelah perubahan itu, barulah orang-orang bumi putera bisa masuk mengikuti kegiatannya. Pada 1916, organisasi kepanduan bumi putera pertama berdiri dengan nama Javaanse Padvinders Organisatie (JPO) di Mangkunegaran Surakarta, yang tak bisa dilepaskan dari peran Mangkunegoro VII, seorang bangsawan Jawa yang aktif di Boedi Oetomo saat masih muda.
Organisasi Kepanduan yang muncul di masa itu digunakan para pemuda untuk meningkatkan budi luhur, ketrampilan dan kepribadian, serta memupuk bakat kepemimpinan. Hal itu semua berguna untuk meningkatkan rasa kebangsaan para pemuda. Sejalan dengan itu, organisasi-organisasi kebangsaan mendirikan organisasi kepanduan sendiri-sendiri yang berada di bawah naungannya. Boedi Oetomo mendirikan Nationale Padvinderij pada 1924 di bawah pimpinan Daslan Adiwarsito. Serikat Islam mendirikan Wina Tamtama pimpinan A. Zarkasih. Pada 1923 berdiri Nationale Padvinders Organisatie (NPO) di bawah pimpinan Usman, sedangkan di Jakarta berdiri Jong Indonessche Padvinders Organisatie (JIPO). Di Yogyakarta, Muhammadiyah juga mendirikan Hizbul Watban pada tahun 1923 di bawah pimpinan Djumairi. Organisasi pemudapun ikut mendirikan kepanduan. Jong Java mendirikan Jong Java Padvinders, Jong Islamieten Bond mendirikan Nationale Islamistiche Padvinders. Selain itu juga ada Pandu Pemuda Sumatera yang didirikan Pemuda Sumatera.
Semakin maraknya organisasi kepanduan bumi putera yang muncul, ternyata semakin menyuburkan faham kebangsaan di tanah air. Hal ini diantisipasi oleh pemerintah kolonial. Usaha-usaha dilakukan untuk memecah organisasi-organisasi kepanduan yang ada, atau setidaknya mengurangi kegiatan-kegiatan kepanduan bumi putera yang berbau menyebarkan faham kebangsaan. Salah satunya adalah larangan menggunakan nama Padvinders atau Padvinderij sebagai nama kepanduan. Atas aturan tersebut, maka sejak tahun 1928, nama Belanda itu diganti dengan nama Pandu atau Kepanduan, hal ini berlaku untuk semua organisasi kepanduan yang ada.
Dengan demikian, keberadaan organisasi kepanduan ini kemudian dimanfaatkan oleh organisasi-organisasi kebangsaan untuk menyebarkan dan memperkuat kesadaran nasional di lingkungan para pemuda Indonesia. Walaupun organisasi-organisasi kepanduan itu memiliki asas yang berbeda, namun ada satu kesamaan yang mendasar, yaitu nasionalisme Indonesia.
Kepanduan yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama Pramuka sebernanya telah ada sejak awal abad XX dengan nama Nederlanche Padvinders Organisatie (NPO). Didirikan oleh John Smith, seorang Belanda, atas usulan dari kepanduan Belanda, sehingga bersifat Nederlandosentris.
NPO kemudian berubah nama menjadi Nederlands Indische Padvinders Vereeneging. Setelah perubahan itu, barulah orang-orang bumi putera bisa masuk mengikuti kegiatannya. Pada 1916, organisasi kepanduan bumi putera pertama berdiri dengan nama Javaanse Padvinders Organisatie (JPO) di Mangkunegaran Surakarta, yang tak bisa dilepaskan dari peran Mangkunegoro VII, seorang bangsawan Jawa yang aktif di Boedi Oetomo saat masih muda.
Organisasi Kepanduan yang muncul di masa itu digunakan para pemuda untuk meningkatkan budi luhur, ketrampilan dan kepribadian, serta memupuk bakat kepemimpinan. Hal itu semua berguna untuk meningkatkan rasa kebangsaan para pemuda. Sejalan dengan itu, organisasi-organisasi kebangsaan mendirikan organisasi kepanduan sendiri-sendiri yang berada di bawah naungannya. Boedi Oetomo mendirikan Nationale Padvinderij pada 1924 di bawah pimpinan Daslan Adiwarsito. Serikat Islam mendirikan Wina Tamtama pimpinan A. Zarkasih. Pada 1923 berdiri Nationale Padvinders Organisatie (NPO) di bawah pimpinan Usman, sedangkan di Jakarta berdiri Jong Indonessche Padvinders Organisatie (JIPO). Di Yogyakarta, Muhammadiyah juga mendirikan Hizbul Watban pada tahun 1923 di bawah pimpinan Djumairi. Organisasi pemudapun ikut mendirikan kepanduan. Jong Java mendirikan Jong Java Padvinders, Jong Islamieten Bond mendirikan Nationale Islamistiche Padvinders. Selain itu juga ada Pandu Pemuda Sumatera yang didirikan Pemuda Sumatera.
Semakin maraknya organisasi kepanduan bumi putera yang muncul, ternyata semakin menyuburkan faham kebangsaan di tanah air. Hal ini diantisipasi oleh pemerintah kolonial. Usaha-usaha dilakukan untuk memecah organisasi-organisasi kepanduan yang ada, atau setidaknya mengurangi kegiatan-kegiatan kepanduan bumi putera yang berbau menyebarkan faham kebangsaan. Salah satunya adalah larangan menggunakan nama Padvinders atau Padvinderij sebagai nama kepanduan. Atas aturan tersebut, maka sejak tahun 1928, nama Belanda itu diganti dengan nama Pandu atau Kepanduan, hal ini berlaku untuk semua organisasi kepanduan yang ada.
Dengan demikian, keberadaan organisasi kepanduan ini kemudian dimanfaatkan oleh organisasi-organisasi kebangsaan untuk menyebarkan dan memperkuat kesadaran nasional di lingkungan para pemuda Indonesia. Walaupun organisasi-organisasi kepanduan itu memiliki asas yang berbeda, namun ada satu kesamaan yang mendasar, yaitu nasionalisme Indonesia.
1.2.5 Organisasi pemuda yang lahir menjelang Sumpah Pemuda Di awal abad XX, organisasi pemuda yang muncul lebih bersifat primordial, namun dalam perkembangannya organisasi pemuda telah mengarah pada sifat kebangsaan, dan telah menunjukkan tanda-tanda untuk menuju pada integrasi bangsa.
Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia
Bersamaan dengan perkembangan Perhimpunan Indonesia di Belanda, di dalam negeri pun semakin berkembang pendidikan tinggi, sehingga terjadilah perkembangan baru dalam sejarah pergerakan nasional di tanah air. Keduanya saling mempengaruhi. Semakin banyaknya kaum terpelajar di Indonesia, timbul gagasan untuk ikut berperan aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Mereka kemudian membentuk organisasi yang diberi nama Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) pada 1926 yang beranggotakan mahasiswa dan pelajar sekolah tinggi. Ide pendirian PPPI ini digagas oleg Djaksodipuro.
Organisasi ini bertujuan untuk menyatukan organisai-organisasi pemuda yang telah ada, yang umumnya memiliki latar belakang budaya, lokalitas, dan etnisitas yang berbeda. Adapun tokoh PPPI itu adalah Sogondo Djojopuspito, Sigid Abdul Sjukur, Gularso, Sumitro, Samidjono, Hendromartono, Subari, Rohdjani, Amir Sjarifuddin, dll. Sugondo Djojopuspito adalah ketua Kongres Pemuda II.
PPPI tidak hanya bergerak di dalam negeri saja. Mereka juga menjalin hubungan dengan Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda. PI sewaktu-waktu mengirimkan majalah Indonesia Merdeka ke Indonesia, seementara PPPI mengirimkan majalah Indonesia Raya ke negeri Belanda. Namun terkadang hal tersebut mendapat halangan dari Pemerintah Belanda maupun pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Sikap PPPI dengan mempersatukan organisasi-organisasi kedaerahan yang telah ada merupakan bukti kecintaan terhadap persatuan bangsa. Hal ini berarti para pemuda telah memasuki babak baru dalam pergerakan nasional, yakni telah berani bergerak dalam dunia politik demi masa depan bangsanya, dengan tidak lupa mendorong para anggotanya untuk terus rajin belajar.
Pemuda Indonesia
Berdiri pada tanggal 27 Februari 1927 di Bandung sebagai tindak lanjut dari Algemeene Studie Club yang dipimpin Soekarno. Pemuda Indonesia ini beranggotakan para pemuda yang berumur 15 tahun ke atas, yang sebagian besar berasal dari pelajar-pelajar AMS dan mahasiswa RHS dan STOVIA. \
Tujuan Pemuda Indonesia adalah guna memperluas dan memperkuat ide kesatuan nasional Indonesia. Untuk merealisasikan tujuan tersebut, Pemuda Indonesia mendirikan organisasi kepanduan, mengadakan kerjasama dengan organisasi pemuda lain, menyelenggarakan rapat-rapat, dan sebagainya. Untuk melakukan segala kegiatannya, Pemuda Indonesia menggunakan bahasa Melayu (Bahasa Indonesia). 28 Desember 1927, Kongres pertama dilangsungkan di Bandung. Beberapa keputusan penting yang dihasilkan adalah:
Penggantian nama Jong Indonesia menjadi Pemuda Indonesia
Bahasa pengantar resmi adalah bahasaMelayu
Gagasan fusi atas organisasi-organisasi pemuda sebagaimana yang dikemukakan Perhimpunan Indonesia disetujui asal semua organisasi menyetujui, dan apabila ada organisasi yang tidak menghendaki fusi, maka Pemuda Indonesia akan menetapkan Pendiriannya kemudian.
Sebelum kongres, ketua dijabat oleh Sujawi. Setelah kongres, kepengurusan berubah, ketua Yusupadi, sekertaris I Muhammada Tamzil, Sekertaris II Subagia Reksodipuro, bendahara Asaat, dan dibantu oleh pengurus lain seperti Roesmali dan Syahrir.
Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia
Bersamaan dengan perkembangan Perhimpunan Indonesia di Belanda, di dalam negeri pun semakin berkembang pendidikan tinggi, sehingga terjadilah perkembangan baru dalam sejarah pergerakan nasional di tanah air. Keduanya saling mempengaruhi. Semakin banyaknya kaum terpelajar di Indonesia, timbul gagasan untuk ikut berperan aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Mereka kemudian membentuk organisasi yang diberi nama Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) pada 1926 yang beranggotakan mahasiswa dan pelajar sekolah tinggi. Ide pendirian PPPI ini digagas oleg Djaksodipuro.
Organisasi ini bertujuan untuk menyatukan organisai-organisasi pemuda yang telah ada, yang umumnya memiliki latar belakang budaya, lokalitas, dan etnisitas yang berbeda. Adapun tokoh PPPI itu adalah Sogondo Djojopuspito, Sigid Abdul Sjukur, Gularso, Sumitro, Samidjono, Hendromartono, Subari, Rohdjani, Amir Sjarifuddin, dll. Sugondo Djojopuspito adalah ketua Kongres Pemuda II.
PPPI tidak hanya bergerak di dalam negeri saja. Mereka juga menjalin hubungan dengan Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda. PI sewaktu-waktu mengirimkan majalah Indonesia Merdeka ke Indonesia, seementara PPPI mengirimkan majalah Indonesia Raya ke negeri Belanda. Namun terkadang hal tersebut mendapat halangan dari Pemerintah Belanda maupun pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Sikap PPPI dengan mempersatukan organisasi-organisasi kedaerahan yang telah ada merupakan bukti kecintaan terhadap persatuan bangsa. Hal ini berarti para pemuda telah memasuki babak baru dalam pergerakan nasional, yakni telah berani bergerak dalam dunia politik demi masa depan bangsanya, dengan tidak lupa mendorong para anggotanya untuk terus rajin belajar.
Pemuda Indonesia
Berdiri pada tanggal 27 Februari 1927 di Bandung sebagai tindak lanjut dari Algemeene Studie Club yang dipimpin Soekarno. Pemuda Indonesia ini beranggotakan para pemuda yang berumur 15 tahun ke atas, yang sebagian besar berasal dari pelajar-pelajar AMS dan mahasiswa RHS dan STOVIA. \
Tujuan Pemuda Indonesia adalah guna memperluas dan memperkuat ide kesatuan nasional Indonesia. Untuk merealisasikan tujuan tersebut, Pemuda Indonesia mendirikan organisasi kepanduan, mengadakan kerjasama dengan organisasi pemuda lain, menyelenggarakan rapat-rapat, dan sebagainya. Untuk melakukan segala kegiatannya, Pemuda Indonesia menggunakan bahasa Melayu (Bahasa Indonesia). 28 Desember 1927, Kongres pertama dilangsungkan di Bandung. Beberapa keputusan penting yang dihasilkan adalah:
Penggantian nama Jong Indonesia menjadi Pemuda Indonesia
Bahasa pengantar resmi adalah bahasaMelayu
Gagasan fusi atas organisasi-organisasi pemuda sebagaimana yang dikemukakan Perhimpunan Indonesia disetujui asal semua organisasi menyetujui, dan apabila ada organisasi yang tidak menghendaki fusi, maka Pemuda Indonesia akan menetapkan Pendiriannya kemudian.
Sebelum kongres, ketua dijabat oleh Sujawi. Setelah kongres, kepengurusan berubah, ketua Yusupadi, sekertaris I Muhammada Tamzil, Sekertaris II Subagia Reksodipuro, bendahara Asaat, dan dibantu oleh pengurus lain seperti Roesmali dan Syahrir.
1.3 BAB III PENUTUP
1.3.1 Kesimpulan
Sejak tahun 1908-1925 di Indonesia bermunculan organisasi modern dikalangan elite pelajar seperti Budi Utomo yang pada masanya menjadi organisasi modern pertama, dengan munculnya Budi Utomo menjadi contoh di kalangan pelajar muda untuk mendirikan organisasi kepemudaan. Karena Budi Utomo merupakan organisasi golongan tua, sehingga para pemuda juga bergegas perlu adanya organisasi bagi para pemuda. Organisasi kepemudaan seperti Jong Java (Tri Koro Dharmo) merupakan salah satu organisasi yang masih bersifat kedaerahan. Jong Java memiliki peran dan pengaruh yang besar terhadap penyatuan pemuda. Pada awal berdirinya tahun 1915, organisasi ini bergerak di bidang sosial,pendidikkan, budaya dan olah raga, namun seiring dengan perkembangan semangat nasionalisme untuk lepas dari pengaruh Belanda, Jong Java mulai terpengaruh dengan aktifitas politik untuk memperoleh kemerdekaan, karena untuk memperoleh kemerdekaan perlu ikut serta dalam aktifitas politik. Pada tahun 1925, Jong Java mulai terpengaruh dengan aktifitas politik yang menjadi awal perubahan arah Jong Java dari non politik ke politik persatuan Indonesia. Perubahan arah tersebut menjadi hal yang menarik untuk diteliti, karena perubahan arah yang dilakukan Jong Java belum ada yang mengulas secara detail. Dari latar belakang di atas muncul dua rumusan masalah: pertama mengapa Jong Java melakukan perubahan dari non politik ke politik persatuan Indonesia, kedua Bagaimana aktivitas politik Jong Java dalam upaya menuju penyatuan organisasi-organisasi kepemudaan Indonesia.
1.3.2 SARAN
Betapa pentingnya peran pemuda dalam bagi suatu bangsa. Sebab itulah, pemuda pada dasarnya harus ada dan mutlak adanya. Sebab pemuda sebenarnya merupakan sosok yang paling memiliki power untuk mengarungi sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara ke depan. Pemuda jualah yang menjadi harapan untuk mengkritik setiap-setiap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan memberikan solusi yang cerdas untuk mengatasi permasalahan.
Pemuda dapat dikatakan sebagai generasi pelanjut dan pelurus. Pemerintah, agar
turut serta memberikan pelayanan kepemudaan, karena pembangunan kepemudaan dilaksanakan dalam bentuk pelayanan kepemudaan.
kata baku dan tidak baku
Beberapa contoh kata baku dan tidak baku
1. Contoh kata baku
Misalnya seperti: aktif, pasif, apotek, efektif, karena, foto, biosfer, bus, objek, november, praktik, negeri, teknik, daftar, nasihat dan lain-lain. Kalimatnya: Pada hari ini saya akan keluar kota.
2. Contoh kata tidak baku
Misalnya seperti: aktip, pasip, apotik, efektip, karna, poto, biosfir, bis, obyek, nopember, praktek, negri, tekhnik, nasehat dan lain-lain. Kalimatnya: Saya akan keluar kota pada hari ini.
Itulah di bagian atas artikel yang membahas tentang pengertian kata baku dan kata tidak baku. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan jika ada kekurangan ataupun kesalahan mohon dimaafkan, serta terimakasih telah membaca artikel ini.
Penjelasan mengenai kata tidak baku
Kata tidak baku adalah kata yang digunakan tidak sesuai dengan pedoman atau kaidah bahasa sudah ditentukan. Biasanya kata tidak baku sering digunakan saat percakapan sehari-hari atau dalam bahasa tutur. Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya kata tidak baku.
Penjelasan mengenai kata baku
Kata baku adalah kata yang digunakan sudah sesuai dengan pedoman atau kaidah bahasa yang telah di tentukan, Atau kata baku merupakan kata yang sudah benar dengan aturan maupun ejaan kaidah bahasa Indonesia dan sumber utama dari bahasa baku yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata baku umumnya sering digunakan pada kalimat yang resmi, baik itu dalam suatu tulisan maupun dalam pengungkapan kata-kata.
Contoh bentuk kerjasama / gotong royong :
1. Bersama membersihkan lingkungan desa
2. Turut ikut aktif melaksanakan siskamling / ronda
3. Tolong menoling dalam segala hal terutama dalam masyarakat
4. Bersama membantu orang yang mengalami musibah
5. Bekerja sama memecahkan masalah guna kepentingan bersama :)
1. Bersama membersihkan lingkungan desa
2. Turut ikut aktif melaksanakan siskamling / ronda
3. Tolong menoling dalam segala hal terutama dalam masyarakat
4. Bersama membantu orang yang mengalami musibah
5. Bekerja sama memecahkan masalah guna kepentingan bersama :)
contoh asimilasi dalam bidang seni suara: Arif suka bernyanyi lagu campur sari Jawa. Sedangkan temannya, si Joni suka lagu-lagu rep dari Amerika. Keduanya berteman baik dan sepakat untuk membuat lagu baru campuran antara campur sari-rep dan dinyanyikan bersama.
Contoh asimilasi dalam seni tulisan, yaitu kaligrafi yang dibawa oleh pedagang-pedagang Arab masuk ke Indonesia sehingga banyak ditiru oleh seniman Indonesia menghasilkan kaligrafi Arab-Indonesia yang unik.
contoh asimilasi dalam bidang bahasa, misalnya antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Yaitu banyak kosa kata inggris yang diserap ke dalam bahasa Indonesia karena bahasa Inggris merupakan bahasa Internasional.
Contoh kompetisi dalam ekosistem:
1. Pada padang rumput terdapat berbagai jenis hewan yang ingin mendapatkan makanan disana seperti zebra, kerbau dan rusa.
2. Pada ekosistem air atau laut ada berbagai hewan yang mencari ikan sebagai makanan seperti ikan lainnya atau burung elang.
3. Pada sebidang tanah yang ditanami berbagai jenis tumbuhan mereka mengalami kompetisi untuk mendapatkan air.
1. Pada padang rumput terdapat berbagai jenis hewan yang ingin mendapatkan makanan disana seperti zebra, kerbau dan rusa.
2. Pada ekosistem air atau laut ada berbagai hewan yang mencari ikan sebagai makanan seperti ikan lainnya atau burung elang.
3. Pada sebidang tanah yang ditanami berbagai jenis tumbuhan mereka mengalami kompetisi untuk mendapatkan air.
Contoh kontravensi
OSIS di sekolahmu mempunyai suatu rencana, tetapi kelasmu kurang setuju terhadap rencana tersebut sehingga berkembang rasa tidak suka atau benci namun masih disembunyikan. Tindakan kelasmu tersebut termasuk suatu kontravensi.
Contoh akibat terjadinya konflik
Contohnya dalam perang kemerdekaan Republik Indonesia, baik pihak Indonesia maupun pihak penjajah mengalami kerugian harta benda juga nyawa.
Contoh lain adalah agresi militer Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak yang tanpa dasar yang jelas, telah menyebabkan kehancuran di negara yang berdaulat itu.
Contoh lain adalah agresi militer Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak yang tanpa dasar yang jelas, telah menyebabkan kehancuran di negara yang berdaulat itu.
Contoh dari bentuk akomodasi yaitu koersi, adjudikasi, mediasi, arbritasi
drama
“The Shepherd and His Lambs”
NARATOR (INDAH): Ehem ... Once upon a time, there lived a little sheperd. Everyday the sheperd took care of the sheeps, by the hill.
SHEPHERD (ARI WIBOWO) : Taking care of sheeps is my duty, each and everyone is safe with me, bring them all to grass in this valley, then I can relax and be happy.
SHEEP 1 (DIKA) : I am the fattest sheep in this valey
SHEEP 2 (RANI): He eat all my food that's why he's feeaaaaaat
SHEEP 3 (PEGA) : I am the pritiest lambs in the whole wide-world. I like it, I like it..
NARATOR (INDAH) : The sheperd took care of his sheeps everyday, but after a while, he started to get bored with his work. Then, one day....
SHEPHERD (ARI WIBOWO) : I know. I know. Hahahahaha. Marvelous!. Marvelous!.
NARATOR (INDAH) Then he shouted!
SHEPHERD (ARI WIBOWO) : Wolf..! wolf..! can someone lend me a hand? Wolf..! wolf..! a wolf is chasing all my lambs.
FARMER 1 (NITA) Wolf?
FARMER 2 (BELA) Wolf?
FARMER 1 AND 2 Where? Where? Let's go to give a hand!
FARMER 1 (NITA) Where's the wolf?
SHEPHERD (ARI WIBOWO) Ha ha ha!
FARMER 1 (NITA) What's so funny about it?
SHEPHERD (ARI WIBOWO) Ha ha ha! There's the sheeps, but there's no wolfs.
FARMER 1 AND 2 : What? No wolf?
SHEPHERD (ARI WIBOWO) Do not be mad, I am just playing around. Hahaha..
NARATOR (INDAH) : The shepherd did not feel bad at all.
SHEPHERD (ARI WIBOWO) : Hohoho. It was fun, I think I'll do it again. Why not?
SHEPHERD(ARI WIBOWO) : Wolf..! wolf..! the big bad wolf is here, help me.. help me..!!
FLOWER : No. No.
FARMER 1 (NITA) : Wolf?
FARMER 2 (BELA) : Wolf?
FARMER 1 AND 2 : Where? Where? Let's go to give a hand!
SHEPHERD (ARI WIBOWO) : Ha ha ha!
FARMER 1 (NITA) : Oh, you're lying again!
SHEPHERD (ARI WIBOWO) : I am kidding. I am kidding. Hahahaha
FARMER 1 (NITA) : Little shepherd! If you call us again, we won't believe you.
FARMER 2 (BELA) : True, true, true! Liar!
SHEPHERD (ARI WIBOWO) : Hahaha, oh my stomach hahaha. Oke oke, I won't do it again.
NARATOR (INDAH) : Angry, the villagers went home. Suddenly!
WOLF ( MARETA) Grr! Awooo! Grr! I am the hungry, hungry wolf! I am gonna eat all the seeps. Nyam nyam ! Auum..! Ha ha ha!
SHEPHERD (ARI WIBOWO) : Wolf! wolf! can someone lend me a hand? Wolf! wolf! the wolf is chasing all my lambs.
FARMER 1 (NITA) : Wolf?
FARMER 2( BELA) : Wolf?
FARMER 2( BELA ) : We don't trust you anymore, we've heard of that trick before. Just leave him alone.
FARMER 1 (NITA) : Let's do our work. Let's go..!
WOLF( MARETA) : Ha ha ha! I am going to eat you. ha ha ha!
SHEEP 1 (DIKA) : Please! Mbek! Please!
SHEEP 3 (PEGA) : Please! Mbek! Don't eat me!
FARMER 1 (NITA) : Why are you crying little shepherd?
SHEPHERD (ARI WIBOWO) : All my little lambs are here no more. Taken away by the big bad wolf. it's all your fault, you didn't come to help. Now I am so sad and all alone.
FARMER 2 (BELA) : Let it be a lesson for us all, never tell a lie how big or small.
FARMER 1 (NITA) : No one will believe you anymore, always tell the truth and not the lie
SHEPHERD (ARI WIBOWO) : Huhuhu ... forgive me, I'm so sorry!
FARMER 1 (NITA) : Hey everyone, don't ever tell lies like that, even if u tell the truth, no one will believe you again.
FARMER 2 (BELA): True, true, true!
The sheperd and his lambs has ended. If u like our story, clap your hands...!!
Drama Raja Rimba
KARYA: KANG ACEP
KARYA: KANG ACEP
NARATOR:
Pada zaman dahulu hutan rimba dipimpin oleh Sang Raja Singa. Sanga Raja Singa adalah pemimpin yang baik. Semua binatang menyukainya. Dia raja yang bijak, tidak sombong, dan sayang kepada rakyatnya. Namun, usia Sang Raja semakin tua. Ia harus segera mencari penggantinya. Lalu, siapakah yang pantas menggantikannya sebagai raja rimba, yuk kita saksikan pementasan ini!
MUSIK: SUASANA YANG RIANG
SANG RAJA TUA MASUK PANGGUNG, BERJOGET RIANG, LALU DUDUK DI SINGGASANANYA. DIBELAKANGNYA IKUT BERJOGET BURUNG BULBUL.
SANG RAJA:
Profesor Bulbul, aku sudah puluhan tahun menjadi raja. Siapakah gerangan yang pantas menggantikanku?
BURUNG BULBUL:
(BERPIKIR). Ehm, bagaimana kalau Tuan Gajah atau Ular Naga?
SANG RAJA:
Bagus, bagus, cobalah kau selidiki dulu,
apakah dia pemberani, bertanggung jawab, dan mau berkorban untuk rakyatnya?
BURUNG BULBUL:
Baiklah yang Mulia!
BURUNG BULBUL OUT STAGE (KELUAR)
SANG RAJA OUT STAGE
SOUND EFFECT: SUARA ANGIN
NARATOR IN STAGE
NARATOR:
Pergilah burung Bulbul menyelidiki Gajah. Nah, apa kira-kira yang dilakukan gajah, pantaskah dia menjadi raja hutan? Ayo, mana pendukung Gajah? Angkat tangan kalian tinggi-tinggi! (kepada penonton).
MUSIK: SUASANA RIANG
SOUND EFFCET: SUARA GAJAH
GAJAH IN STAGE DARI ARAH PENONTON
BURUNG-BURUNG BULBUL IN STAGE BERSEMBUNYI
GAJAH:
(TERTAWA) Minggir, minggir, minggir, minggir, minggir, minggir.
Akulah sang Gajah. Tubuhku besar, tenagaku kuat. Pililah aku jadi raja. Aku punya segalanya. Hahaha…
Minggir, minggir. Awas, kalau tidak memilih aku!
Tupai…Tupai……!
TUPAI IN STAGE
TUPAI:
Saya Tuan
GAJAH:
Mana itu kelapa, aku lapar sekali. Bawakan aku kelapa sebanyak-banyaknya!
TUPAI:
Ya, tapi, tapi….(ketakutan)
GAJAH:
Jangan banyak alasan. Kau berani padaku?
TUPAI:
Ampun, Tuan, saya tidak berani. Tapi, tapi, tak jauh dari sini ada manusia bawa senapan.
GAJAH:
Apa pemburu masuk hutan? Cepatlah awasi manusia itu!
TUPAI:
Tapi…
GAJAH:
Jangan takut, ada aku, Gajah yang kuat!
TUPAI:
Baiklah, Tuan
TUPAI OUT STAGE
GAJAH:
(monolog) Wah, gawat, pemburu itu pasti mau menembakku. Sebaiknya aku lari saja!
GAJAH LARI OUT STAGE
BURUNG BULBUL MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA
BURUNG BULBUL:
Tak patut, tak patut!
BURUNG BULBUL OUT STAGE
NARATOR IN STAGE
NARATOR:
Bulbul pun segera terbang mencari calon pemimpin berikutnya, yakni Ular Naga.
Ular Naga hidup di hutan rimba bagian timur.
Ular Naga ini sangat kuat, pemberani, dan hebat.
Apakah Ular Naga pantas jadi raja hutan rimba?
Siapa pendukung ular naga?
Ayo angkat tanggannya tinggi-tinggi.
Baiklah, jangan ke mana-mana, yuhuuuu!
NARATOR OUT STAGE
ULAR NAGA IN STAGE
ULAR NAGA MASUK DENGAN TARIAN SEPERTI BARONGSAI
BURUNG BULBUL IN STAGE BERSEMBUNYI
ULAR NAGA
Akulah Naga, binatang terkuat di rimba ini. Aku tak takut pada siapa pun.
Berani melawan, aku sikat!
Hai, penonton…aku pantas bukan jadi raja rimba. Aku pemberani lho. Baru saja aku makan itu sepuluh ayam jago, satu ekor banteng, satu ekor harimau. Hahaha… aku sangat kenyang! O, tapi kenapa aku jadi mengantuk sekali. Tidur dulu ah!
ULAR NAGA TIDUR MENDENGKUR
OSUND EFFECT: SUARA SENAPAN
PARA BINATANG HILIR MUDIK KETAKUTAN IN STAGE
SEMENTARA ULAR NAGA MASIH TIDUR MENDENGKUR
KAMBING:
Tolong…tolong…..Ada pemburu masuk hutan!
KELINCI IN STAGE
KELINCI:
Tenang, tenang, teman-teman, jangan panik. Mari kita duduk dulu.
PARA BINATANG DUDUK
KELINCI:
Tenang. Kita harus cari bantuan. Kita harus segera laporkan kepada Sang Raja Singa.
MONYET:
Aduh, sang raja sedang sakit-sakitan. Tak mungkin kita menganggunya.
KELINCI:
Bagaimana kalau minta bantuan Gajah?
TUPAI:
Aduh, dia cuma badannya saja yang besar. Tenaganya sih kuat, tapi dia penakut.
Saat kuberi tahu dia malah lari ketakutan.
KELINCI:
Kalau begitu kita minta bantuan Sang Naga.
PARA BINATANG SERENTAK:
Yayaya, kita minta bantuan Sang Naga. Dia hebat, pemberani!
TUPAI:
Tapi, dia sedang tidur pulas. Siapa yang berani membangunkannya?
KELINCI:
Siapa yang berani membangunkan Sang Naga?
SEMUA BINATANG MENGGELENG
AYAM:
Jangan aku, kau saja.
KAMBING:
Kau saja, Nyet.
MONYET:
Aku takut. Kau sajalah Kelinci!
KELINCI:
Baiklah, kalau kalian tidak berani, biar aku yang membangunkannya!
MONYET:
Hati-hati lho, dia bisa menggigit kamu!
KELINCI MEMBANGUNKAN ULAR NAGA
ULAR NAGA HANYA MENGOLET
KELINCI:
Ular Naga, tolonglah kami, para pemburu itu menembaki kami terus.
SOUND EFFECT: SUARA SENAPAN
KELINCI:
Bangunlah, usirlah para pemburu itu!
ULAR NAGA:
(Mengolet sebentar). Aku tidak takut!
KELINCI:
Kalau begitu, usirlah pemburu itu!
ULAR NAGA:
Itu bukan urusanku! Aku ngantuk sekali tahu! Jangan ganggu aku lagi!
NARATOR IN STAGE
NARATOR:
Sayang sekali Sang Naga tak mau membantu. Dia lebih memilih tidur daripada membantu teman-temannya. Akhirnya dipimpin oleh Kelinci,
mereka melawan para pemburu.
NARATOR OUT STAGE
KELINCI:
Baiklah teman-teman, kita harus bersatu. Walaupun kita tidak sekuat gajah, ular, dan singa, jika kita bersatu kita akan mampu melawan para pemburu.
MONYET:
Ayo, kita lawan pemburu itu!
KELINCI:
Tunggu, kita harus menggunakan akal.
KELINCI MENGAJAK MEREKA BERKUMPUL.
TAMPAK BINATANG-BINATANG ITU BERKUMPUL, LALU BERTERIAK HOREEEEE…..
MUSIK: MENEGANGKAN
PARA PEMBURU IN STAGE
MEREKA TAMPAK SEDANG MENGINCAR TUPAI DENGAN SENAPANNYA. NAMUN, DARI ARAH BELAKANG, KAMBING MENYERUDUKNYA. DIBANTU MONYET YANG SEGERA MEREBUT SENAPAN. MEREKA PUN SEGERA MENGEROYOK PARA PEMBURU.
PARA PEMBURU MINTA AMPUN.
KELINCI:
Cukup! Mereka sudah minta ampun. Kita harus memaafkannya.
PARA PEMBURU:
Ampun, kami berjanji tidak mau berburu lagi!
KELINCI:
Baiklah, kupegang janjimu. Kawan-kawan lepaskan mereka!
PARA BINATANG BERTERIAK RIANG
PARA PEMBURU, KELINCI DAN KAWAN-KAWAN OUT STAGE
BURUNG BULBUL TERBANG KE TENGAH PANGGUNG LALU OUT STAGE
SANG RAJA SINGA IN STAGE
SANG RAJA SINGA BERJALAN TERTATIH-TATIH MENUJU KURSI SINGGASANA
BURUNG BULBUL IN STAGE, HAMPIR JATUH TERPELESET.
BURUNG BULBUL:
Ampun, Baginda, hamba ingin melapor!
SANG RAJA:
Katakan siapa yang pantas jadi raja menggantikan aku? Gajah atau Ular Naga?
BURUNG BULBUL:
(bertanya kepada penonton) siapakah yang pantas jadi raja hutan rimba, Gajah, Ular Naga, atau kelinci?
SANG RAJA:
Apa kelinci?
BURUNG BULBUL:
Ya, benar Kelinci. Walaupun tubuhnya tidak sekuat gajah, tetapi dia pemberani dan bertanggung jawab atas keselamatan negeri rimba!
NARATOR IN STAGE
NARATOR:
Demikianlah akhir kisah drama ini. Karena keberanian dan rasa tanggung jawabnya yang besar, sang Kancil pun dipilih menjadi Raja Hutan Rimba yang baru.
PARA PEMAIN IN STAGE DAN BERJOGET BERSAMA DENGAN MUSIK YANG RIANG
MUSIK PENUTUP
flora dan fauna
1. Flora
a) Euphorbia Obesa: the Baseball Plant

Euphorbia Obesa, juga dikenal sebagai Tanaman Baseball, adalah endemik yang berasal dari daerah Karoo Besar di Afrika Selatan. Tumbuhan ini sudah langka dan terancam punah. Kebanyakan dari mereka sudah banyak dibudidayakan, hargatumbuhan ini sangat mahal dan menjadi salah satu koleksi yang wajib dimiliki olehpara kolektor tanaman si seluruh dunia.
b) Kecapi (Sandoricum koetjape)

Kecapi, sentul atau ketuat adalah nama sejenis buah dan juga pohon penghasilnya. Kecapi diperkirakan berasal dari Indocina dan Semenanjung Malaya. Berabad-abad yang silam, tumbuhan ini dibawa dan dimasukkan ke India,Indonesia (Borneo, Maluku), Mauritius, dan Filipina, di mana tanaman buah ini kemudian menjadi populer, ditanam secara luas dan mengalami naturalisasi. Pohon ini ditanam terutama karena diharapkan buahnya, yang berasa manisatau agak masam. Kulit buahnya yang berdaging tebal kerap dimakan dalam keadaan segar atau dimasak lebih dulu, dijadikan manisan atau marmalade. Kayu kecapi bermutu baik sebagai bahan konstruksi rumah, bahan perkakas atau kerajinan, mudah dikerjakan dan mudah dipoles. Berbagai bagian pohon kecapi memiliki khasiat obat. Rebusan daunnya digunakan sebagai penurun demam. Serbuk kulit batangnya untuk pengobatan cacing gelang. Akarnya untuk obat kembung, sakit perut dan diare, serta untuk penguat tubuh wanita setelah melahirkan. Kecapi ada dua macam, yakni dengan daun tua sebelum gugur berwarnakuning dan yang berwarna merah. Dahulu, kedua varietas ini dianggap sebagai spesies yang berbeda.
c) Anggrek Bulan

Anggrek bulan Pelaihari, salah satu jenis anggrek terbaik di dunia asal Kalimantan Selatan terancam hilang karena salah kelola. Phalaenopsis amabilis atau anggrek bulan memang memiliki keindahan yang bisa memikat siapa saja. Tidak hanya kalangan pecinta anggrek, masyarakat awam pundibuat kepincut olehnya. Anggrek Bulan banyak di jumpai di kepulauan Indonesia, karena penyebaran yang hampir merata ditambah keindahan bunganya. Karena ituah anggrek Phalaenopsis amabilis di nobatkan sebagai Puspa Pesona.Anggrek bulan endemik Pelaihari adalah anggrek phalaenopsis indukan silangan yang telah sering di gunakan di berbagai negara karena berbagai keunggulannya. Sayangnya keberadaan Anggrek amabilis ini sudah mulai langka dan sulit di temuiditemui di habitat aslinya, di kawasan Hutan Pegunungan Meratus PelaihariKabupaten Tanah Laut maupun di kawasan hutan Kalimantan Selatan lainnya.
2. Fauna
a) Harimau Jawa

Harimau Jawa adalah jenis harimau yang hidup di pulau Jawa. Harimau ini dinyatakan punah di sekitar tahun 1980-an, akibat perburuan dan perkembanganlahan pertanian yang mengurangi habitat binatang ini secara drastis. Walaupun begitu, ada juga kemungkinan kepunahan ini terjadi di sekitar tahun 1950-an ketika diperkirakan hanya tinggal 25 ekor jenis harimau ini. Terakhir kali ada sinyalemen dari harimau jawa ialah di tahun 1972. Di tahun 1979, ada tanda-tanda bahwa tinggal 3 ekor harimau hidup di pulau Jawa. Walaupun begitu, ada kemungkinan kecil binatang ini belum punah. Di tahun 1990-an ada beberapa laporan tentang keberadaan hewan ini, walaupun hal ini tidak bisa diverifikasi.
b) Pesut Mahakam

Pesut Mahakam Pesut Mahakam (Latin : Orcaella brevirostris) adalah sejenis hewan mamalia yang sering disebut lumba-lumba air tawar yang hampi r punah karena berdasarkan data tahun 2007, Pesut Mahakam tinggal 50 ekor saja dan menempati urutan tertinggi satwa Indonesia yang terancam punah. Tidak seperti mamalia air lain yakni lumba-lumba dan ikan paus yang hidup di laut, Pesut Mahakam hidup di sungai-sungai daerah tropis. Populasi satwa langka yang dilindungi Undang-Undang ini hanya terdapat pada tiga lokasi di dunia yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady. Namun, diberitakan bahwa pesut di Mekong dan Sungai Irrawaddy sudah punah.
c) Bekantan
Bekantan atau biasa disebut Monyet Belanda merupakan satwa endemik Pulau Kalimantan (Indonesia, Brunei, dan Malaysia). Bekantan merupakan sejenis kera yang mempunyai ciri khas hidung yang panjang dan besar dengan rambut berwarna coklat kemerahan. Dalam bahasa ilmiah, Bekantan disebut Nasalis larvatus. Bekantan dalam bahasa latin (ilmiah) disebut Nasalis larvatus, sedang dalam bahasa inggris disebut Long-Nosed Monkey atau Proboscis Monkey. Dinegara-negara lain disebut dengan beberapa nama seperti Kera Bekantan (Malaysia), Bangkatan (Brunei), Neusaap (Belanda). Masyarakat Kalimantan sendiri memberikan beberapa nama pada spesies kera berhidung panjang ini seperti Kera Belanda, Pika, Bahara Bentangan, Raseng dan Kahau. Bekantan yang merupakan satu dari dua spesies anggota Genus Nasalis ini sebenarnya terdiri atas dua subspesies yaitu Nasalis larvatus larvatus dan Nasalis larvatus orientalis. Nasalis larvatus larvatus terdapat dihampir seluruh bagian pulau Kalimantan.
G30S/PKI
Peristiwa kekejaman G30S/PKI meninggalkan coretan hitam dalam sejarah bangsa Indonesia.
Seorang saksi sejarah peristiwa itu mengungkapkan pengalamannya kepada wartawan Intisari LR Supriyapto Yahya dan Anglingsari Saptono, ketika ia hampir ikut menjadi korban.
Malam baru saja lewat, sementara matahari pagi pun belum terjaga dari peraduannya, karena waktu itu memang baru pukul 03.00.
Tanggal terakhir pada bulan September baru berganti dengan tanggal 1 Oktober 1965. Jakarta dan penduduknya masih terhanyut dalam sepenggal mimpinya. Namun, Sukitman (49) yang waktu itu berpangkat Agen Polisi Dua tidak ikut terhanyut dalam buaian mimpi.
la harus menjalankan tugasnya di Seksi Vm Kebayoran Baru (sekarang Kores 704) yang berlokasi di Wisma AURI di Jl. Iskandarsyah, Jakarta, bersama Sutarso yang berpangkat sama.
“Angkat tangan”
"Waktu itu polisi naik sepeda. Sedangkan untuk melakukan patroli, kadang-kadang kami cukup dengan berjalan kaki saja, karena radius yang harus dikuasai adalah sekitar 200 m,” katanya mengengang masa awal tugasnya.
Tiba-tiba ia dikejutkan oleh bunyi rentetan tembakan, yang rasanya tidak jauh dari posnya. Karena tembakan itu berasal dari bawah dan dekat situ ada Gedung MABAK yang tinggi, suara tembakan itu memantul.
Rasa tanggung jawab membuat Sukitman bergegas mengendarai sepedanya dengan cara melawan arah mencari sumber tembakan itu. Sementara rekannya tetap melakukan tugas jaga. Dalam benak pemuda yang terlintas mungkin terjadi perampokan.
Ternyata suara itu berasal dari rumah Jenderal D.I. Panjaitan yang terletak di Jln. Sultan Hasanudin. Di situ sudah banyak pasukan bergerombol. Belum sempat tahu apa yang terjadi di situ, tiba-tiba ia dikejutkan oleh teriakan tentara berseragam loreng dan berbaret merah yang berusaha mencegatnya.
"Turun! Lempar senjata dan angkat tangan!"
Sukitman, yang waktu itu baru berusia 22 tahun, kaget dan lemas. la segera melakukan apa yang diperintahkan tanpa bisa menolak. Di bawah ancaman senjata di kiri-kanan, Sukitman kemudian diseret dan dilemparkan ke dalam truk dalam keadaan tangan terikat dan mata tertutup.
"Tapi saya tetap masih belum bisa menduga apa yang terjadi," katanya mengenang peristiwa menakutkan itu.
Menurut perasaannya, dalam truk itu Sukitman ditempatkan di samping sopir. Dengan mengandalkan daya ingatannya, Sukitman berusaha mencari tahu ke mana ia akan dibawa.
Begitu dari Cawang belok ke kanan, Sukitman mulai kehilangan orientasi. Berbagai perasaan berkecamuk di dadanya. "Pokoknya, saya pasrah kepada Tuhan sambil berdoa," katanya.
Saksi Pembantaian
Entah di mana, akhirnya kendaraan yang membawa Sukitman berhenti. Ia segera diturunkan dan tutup matanya dibuka. "Tentu saja saya jalangjang-jalongjong, karena dari keadaan gelap saya langsung dihadapkan kepada terang."
Pada waktu itulah ia mendengar orang bicara, "Yani wis dipateni." Tak lama kemudian seorang tentara yang menghampiri Sukitman dan tahu bahwa sanderanya itu seorang polisi, segera menyeret Sukitman ke dalam tenda.
Pelajar dan warga melihat monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, Jakarta, usai mengikuti upacara peringatan hari Kesaktian Pancasila, Sabtu (1/10/2016). Tanggal 1 Oktober merupakan Peringatan Hari Kesaktian Pancasila sekaligus mengenang korban peristiwa G30S/PKI khususnya tujuh pahlawan revolusi. TRIBUNNEWS/HERUDIN (TRIBUNNEWS/HERUDIN)
Tentara tersebut segera melapor kepada atasannya, "Pengawal Jenderal Panjaitan ditawan." Meskipun waktu itu masih remang-remang, di dalam tenda Sukitman sempat mengamati keadaan sekelilingnya.
Ia melihat orang yang telentang mandi darah, ada juga yang duduk di kursi sambil bersimbah darah segar. Seseorang memerintahkan si tentara tadi, yang kemudian diketahui namanya Lettu Dul Arief, agar Sukitman ditawan di depan rumah.
Begitu hari terang, dari jarak sekitar 10 m Sukitman bisa melihat dengan jelas sekelompok orang mengerumuni sebuah sumur sambil berteriak, "Ganyang kabir, ganyang kabir!"
Ke dalam sumur itu dimasukkan tubuh manusia - entah dari mana – yang langsung disusul oleh berondongan peluru. Sukitman sempat melihat seorang tawanan dalam keadaan masih hidup dengan pangkat bintang dua di pundaknya, mampir sejenak di tempatnya ditawan.
"Setelah tutup matanya dibuka dan ikatannya dibebaskan, di bawah todongan senjata, sandera itu dipaksa untuk menandatangani sesuatu. Tapi kelihatannya ia menolak dan memberontak. Orang itu diikat kembali, matanya ditutup lagi, dan diseret dan langsung dilemparkan ke dalam sumur yang dikelilingi manusia haus darah itu dalam posisi kepala di bawah," kenangnya.
Dengan perasaan tak keruan, Sukitman menyaksikan kekejaman demi kekejaman berlangsung di depan matanya, sampai ketika orang-orang buas itu mengangkuti sampah untuk menutupi sumur tempat memendam para korbannya.
Dengan cara itu diharapkan perbuatan kejam mereka sulit dilacak. Di atas sumur itu kemudian ditancapkan pohon pisang.
"Setiap habis memberondongkan pelurunya, jika akan membersihkan senjatanya, para pembunuh yang menamakan dirinya sukarelawan dan sukarelawati itu pasti melewati tempat saya ditawan," tambahnya.
Dengan demikian Sukitman bisa melihat dengan jelas siapa-siapa saja yang terlibat peristiwa yang meminta korban nyawa 7 Pahlawan Revolusi. Ia pun sempat melihat Letkol Untung, yang mengepalai kejadiah kelam dalam sejarah militer di Indonesia itu.
Untung tertidur
Kemudian salah seorang anggota Cakrabirawa menghampiri Sukitman yang masih diliputi rasa takut.
"Kamu tidak usah takut. Kita sama-sama prajurit. Beli kaus singlet pun kita sudah tidak bisa. Sementara para jenderal yang menamakan diri Dewan Jenderal, jam dinding di rumahnya saja terbuat dari emas dan mereka akan membunuh Presiden pada tanggal 5 Oktober. Kamu 'kan tahu Cakrabirawa tugasnya adalah sebagai pengawal dan penjaga Presiden," kata Sukitman mengulangi apa yang diucapkan si anggota Cakra tersebut.
Waktu itulah Sukitman baru merasa agak tenang, meskipun ia masih tetap diawasi. Ternyata anggota Cakra itu sudah di-drill, karena langsung berada di bawah komando Letkol Untung. Sekitar satu dua jam kemudian melalui radio disiarkan, siapa yang mendukung G30S itu akan dinaikkan pangkatnya.
Satu tingkat untuk prajurit, sementara yang aktif akan memperoleh kenaikan dua tingkat. Mendengar pengumuman itu semua yang merasa terlibat bersalam-salaman, karena merasa gerakan mereka sukses.
Setelah suasana agak tenang, Sukitman dipanggil oleh Lettu Dul Arief yang menanyakan di mana senjata Sukitman.
Sukitman menjelaskan apa yang terjadi ketika ia berada di daerah Kebayoran. Akhirnya senjata itu bisa ditemukan, walaupun dalam keadaan patah. Mengira Sukitman bukan musuh, bahkan teman senasib, Jumat sore itu Sukitman diajak menuju Halim bersama iring-iringan pasukan.
Sesampai di Gedung Penas (daerah Bypass, sekarang Jl. Jend. A. Yani) pasukan itu diturunkan di lapangan, sementara Sukitman masih bersama Dul Arief. Pada malam harinya, entah mengapa, orang yang mengawasi tawanannya malah mengajak Sukitman untuk mengambil nasi.
"Ke mana?" tanya Sukitman.
"Ke Lubang Buaya, tempat para jenderal dibunuh," jawab Kopral Iskak, orang yang mengajaknya tersebut.
"Pada waktu itulah saya baru tahu bahwa yang dikatakan 'Ganyang kabir, ganyang kabir!' itu para jenderal," ungkap Sukitman.
Jalan yang diambil melewati Cililitan, Kramat Jati, Pasar Hek bukan sesuatu yang asing bagi Sukitman, karena dulu ia pernah mengikuti latihan di daerah itu.
Keadaan masyarakat masih tenang, karena belum menyadari apa yang terjadi. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Manusia-manusia haus darah itu masih diliputi suasana "kemenangan".
Selesai mengambil nasi mereka segera kembali ke Gedung Penas untuk membagikannya kepada para pasukan. "Ketika kembali menuju Gedung Penas itu saya sempat turun untuk membeli rokok. Saya pikir mendingan saya terus pulang saja," kata Sukitman.
"Jangan," kata Kopral Iskak yang menjadi sopir. "Saya juga pulangnya ke Tanah Abang." Ternyata Iskak adalah sopir Letkol Untung, yang mengotaki pemberontakan berdarah ini.
Karena kelelahan, akhirnya Sukitman tertidur. Hari Sabtu pagi Sukitman mulai pasang mata lagi. Hari itu semakin siang, anggota pasukan semakin banyak dan mereka sudah berganti pakaian.
"Rupanya mereka sudah mempersiapkan segalanya," komentar ayah tiga anak ini.
Dalam suasana yang kurang menguntungkan itu Sukitman masih sempat jajan untuk mengganjal perutnya. "Tapi kesempatan untuk melarikan diri sama sekali tidak mungkin."
Kira-kira pukul 14.00, karena merasa kepalanya pusing, Sukitman masuk ke kolong truk untuk berbaring. la menggunakan helmnya untuk ganjal kepala, senjatanya yang patah pun ia simpan di dekatnya, sementara kepalanya yang pusing diikatnya dengan scarf yang sebelumnya digunakan oleh para pemberontak itu.
Rupanya Sukitman benar-benar jatuh tertidur. "Meskipun saya mendengar bunyi tembakan gencar, entah mengapa mata saya tidak mau diajak kompromi untuk melek," katanya.
Ketika terbangun sore harinya, sekitar pukul 16.00, ia mendapati dirinya hanya sendirian di situ. Sementara anggota pasukan yang demikian banyak siang itu, tak satu pun kelihatan batang hidungnya, sedangkan truk masih berjejer. Sukitman menganggap hal itu suatu keberuntungan dan juga lindungan Tuhan.
Menghadap Mayjen Soeharto
Tiba-tiba datanglah pasukan tentara yang kemudian diketahui sedang mencari jejak anggota yang terlibat G30S/PKI. Pasukan itu mengenakan tanda pita putih.
"Prinsip saya, kalau pakai pita putih itu PMI. Jadi tidak mungkin menangkap tawanan dan dibunuh." Karena tidak ada siapa-siapa lagi selain dirinya, Sukitman pun diperiksa.
Begitu pasukan itu tahu bahwa yang diperiksa seorang polisi, mereka pun kaget.
"Tanpa banyak tanya saya segera diberi pita putih dan langsung dibawa ke markas Cakrabirawa yang terletak di belakang Istana Negara, yang sekarang menjadi Gedung Binagraha."
Saat itulah ia menjelaskan segamblang-gamblangnya apa yang dialaminya dan kemudian dibuatkan proses verbal. Hal itu baru selesai pukul 03.00. Setelah selesai, segeralah hal itu disebarkan ke berbagai pihak yang dianggap perlu mengetahuinya.
Minggu pagi Sukitman dijemput dan segera dihadapkan kepada Pangdam V Jaya yang waktu itu dijabat oleh Mayjen Umar Wirahadikusumah. Kemudian Sukitman dibawa oleh Mayor Mubardi, ajudan Jenderal A. Yani, ke Jl. Lembang, Jl. Saharjo, dan ke Cijantung. Di sana Sukitman menghadap Kolonel Sarwo Edhie Wibowo. Sementara laporan Sukitman pun sudah ada di sana.
Bersama pasukan RPKAD Sukitman segera menuju ke lokasi pembantaian. "Dari Pasar Hek kami harus jalan kaki dan langsung menyebar," kenangnya.
Di lokasi pasukan pemberontak masih banyak berkeliaran. Mereka segera diberi ultimatum, jika tidak menyerah akan segera dihancurkan. Akhirnya RPKAD dapat menguasai keadaan dan bisa menemukan sumur yang digunakan untuk menyembunyikan jenazah para Pahlawan Revolusi itu.
Sejak hari Minggu, pukul 22.00, Sukitman sudah diambil lagi dan berada di bawah pengawasan Sarwo Edhie. Sukitman dilarang untuk berbicara apa pun kepada orang lain.
"Karena kelelahan saya tertidur dan tidak tahu dibawa ke mana. Tahu-tahu saya sudah sampai di Jl. Merdeka Timur, melapor, dan menghadap Panglima Kostrad Mayjen Soeharto. Kemudian saya dibawa kembali ke Cijantung," kenang Sukitman.
Hari Senin jenazah para Pahlawan Revolusi berhasil diangkat dari sumur dan segera dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (kini RS Gatot Subroto). Ternyata tugas Sukitman masih belum selesai sampai di situ, ia dijemput lagi oleh pasukan dari Kodam. Namun, atas perintah Pangdam V Jaya ia diambil lagi dari Cijantung.
Kemudian ia masih harus dibawa ke Kodam, Jl. Guntur, untuk diperiksa, setelah itu ke markas Cakra.
Baru pada hari Rabu Sukitman dikembalikan. Tentu saja rekan Sukitman serasa mimpi melihat temannya kembali tanpa kurang suatu apa pun, meskipun sepedanya penuh darah.
Sejarah kadang memang sulit diduga. Sukitman yang sedang menjalankan tugasnya ternyata terseret ke dalam peristiwa besar di republik ini. Maka jadilah ia seorang saksi sejarah.
Tentu saja Sukitman menerima penghargaan berupa kenaikan pangkat menjadi Agen Polisi Satu.
Bintang Satria Tamtama diperolehnya bertepatan dengan Hari Kepolisian, 1 Juli 1966, dan Bintang Satya Penegak diberikan oleh Presiden Soeharto, tepat pada Hari ABRI, 5 Oktober 1966.
Setiap peringatan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober, di Lubang Buaya, Sukitman merupakan salah satu undangan yang tak terlupakan. Hal ini sangat membanggakan hatinya, karena ia merasa dihargai oleh pemerintah.
Sukitman, yang kini berpangkat kapten, tidak pernah menganggap dirinya sangat berjasa. Ia lebih mensyukuri rahmat Tuhan yang dilimpahkan pada dirinya, karena bisa terhindar dari renggutan maut 27 tahun yang lalu.
Penulis: K. Tatik Wardayati
Artikel ini telah tayang di Intisari dengan judul: Seputar G30S/PKI: Kisah Sukitman, Agen Polisi yang Lolos dari Lubang Buaya
Artikel ini telah tayang di Intisari dengan judul: Seputar G30S/PKI: Kisah Sukitman, Agen Polisi yang Lolos dari Lubang Buaya
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Intisari edisi September 1992, dengan judul asli Yang Lolos dari Lubang Buaya.
LAPORAN KEGIATAN PRAKTEK
TAMAN BACAAN MASYARAKAT GARUDA SAKTI
DESA SIMPANG PADANG
KECAMATAN MANDAU
KABUPATEN BANGKALIS
OLEH
MAIMUN
NIM. 835667754
KELAS A
PROGRAM S1 PGSD GURU KELAS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UPJJ-UT 16/PEKANBARU
UNIVERSITAS TERBUKA
PEKAN BARU
2017
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah begitu banyak melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas praktek pembelajaran berwawasan kemasyarakatan.
Tugas praktek ini adalah untuk memenuhi syarat dalam penyerahan laporan praktek mata kuliah pembelajaran berwawasan kemasyarakatan. Adapun judul dalam penulisan tugas praktek ini adalah “Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Pada Kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih yang setulus-tulusnya atas semua saran, bimbingan dan bantuan kepada :
1. Ibuk Dewi Indrayeni,M.Pd selaku Dosen/Tutor mata kuliah Pembelajaran Berwawasan Kemasyarkatan.
2. Bapak/Ibu Pengurus Desa
3. Keluarga yang memberikan dorongan spiritual dan material dalam pembuatan tugas ini.
4. Rekan-rekan seperjuangan mahasiswa S1 PGSD Guru Universitas Terbuka UPJJ-UT 16 Pekan Baru Pokjar Duri.
5. Seluruh warga belajar yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah turutberperan serta dalam mengikuti program taman bacaan masyarakat
Tugas praktek Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saran, kritik dan masukan yang bersifat membangun sangat penulis harapkan semoga hasil dari tugas praktek Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih.
Duri, 16 April 2017
Penulis
|
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................... iii
A. Latar Belakang.............................................................................................. 1
B. Pengertian TMB.........................................................................................1
C. Tujuan Kegiatan TBM...............................................................................2
D. Manfaat Kegiatan TBM.............................................................................2
BAB II TAHAPAN PELAKSANAAN PRAKTEK TBM..........................................3
A. Langkah-Langkah jalan TBM............................................................................3
Format 1...............................................................................................................3
B. Organisasi Dan menajemen TBM......................................................................4
C. Tempat dan Waktu dilaksanakan TBM..............................................................6
A. Strategi dalam Pelaksanaan TBM........................................................................6
B. Strategi dalam Meningakatkan Minat Baca ........................................................6
C. Jadwal Pelaksaaan TBM.......................................................................................7
D. Skenario Dalam Proses pembelajaran...................................................................7
Format 2..................................................................................................................8
E. Kendala dan Upaya Penanggulangan Masalah TBM...........................................9
BAB III TAHAPAN EVALUASI TBM..........................................................................9
Format 3..................................................................................................................9
Dokumentasi saat pelaksaan kegiatan TBM.........................................................11
Daftar Pustaka.........................................................................................................12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Salah satu program pendidikan sebagai tindak lanjut dan implementasi program pemerintah yang turut mendukung keberhasilan pembangunan dunia pendidikan adalah adanya pengembangan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). TBM adalah salah satu program pemerintah yang mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 6 ayat (4), tercantum bahwa satuan pendidikan non formal terdiri atas lembaga khusus, lembaga pelatihan, kelompok belajar pusat kegiatan belajar masyarakat, majelis taklim, serta satuan pendidikan yang se
Program TBM telah dimulai sejak tahun 1992/1993. Kehadiran TBM merupakan pembaharuan dari Taman Pustaka Rakyat (TPR) yang didirikan oleh masyarakat pada tahun lima puluhan. Program TBM ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan budaya baca masyarakat. Oleh karna itu, keberadaan TBM sangat penting sebagai sarana belajar masyarakat. Dengan demikian, sebagai sarana yang diharabkan dapat menjadi pembina dalam kegiatan pemberantasan buta aksara.
B. Pengerian TBM
Taman Bacaan Masyarakat (TBM) merupakan lembaga yang menyediakan bahan bacaan yang dibutuhkan oleh masyarakat sebagai tempat penyelenggaraan pembinaan kemampuan membaca dan belajar. Selain itu, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) juga merupakan tempat yang digunakan sebagai tempat untuk mendapatkan informasi bagi masyarakat, khususnya yang bersumber dari bahan pustaka, bahan pustaka itu sendiri merupakan semua jenis bahan bacaan dalam berbagai bentuk media.
C. Tujuan Kegiatan TBM
Tujuan yang ingin dicapai dengan adanya kegiatan TBM ini adalah membangkitkan dan meningkatkan minat baca sehingga tercipta masyarakat yang cerdas, menjadi sebuah wadah kegiatan belajar masyarakat, dan mengningkatkan peningkatan kemampuan aksarawan baru dalam rangka pemberantasan buta aksara sehingga mereka yang telah “melek huruf” tidak menjadi buta aksara kembali. Dan bisa mewujudkan masyarakat gemar membaca (reading society) dan gemar belajar ((learning society).
D. Manfaat kegiatan TBM
Praktek ini memiliki manfaat bagi berbagai pihak antara lain :
A. Warga Belajar
1. Dapat meningkatkan minat kecintaan, dan kegemaran membaca.
2. Memperkaya pengalaman belajar dan pengetahuan.
3. Menumbuhkan kegiatan belajar mandiri.
4. Membantu pengembangan kecukupan membaca.
5. Menambah wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
B. Bagi Masyarakat
1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat.
2. Meningkatkan masyarakat yang bermutu dan berkualitas.
3. Memotivasi masyarakat untuk kecintaan ilmu pengetahuan.
C. Bagi Peneliti
Sebagai bahan untuk peningkatan profesional mahasiswa dan menambah pengetahuan serta wawasan dalam bidang pendidikan di masa yang akan datang.
BAB II
TAHAPAN PELAKSANAAN PRAKTEK TBM
A.Langkah-langkah jalannya TBM
Langkah pertama dalam usaha penyusunan program kegiatan TBM ini adalah penulis mencari informasi dari kepala desa atau perangkat untuk mencari data tentang 7 warga belajar yang masih buta aksara, ataupun yang putus sekolah kemudian mendokumentasikan calon peserta yang akan menjadi sasaran kegiatan berdasarkan data yang diperoleh dari desa. langkah berikutnya menyusun daftar calon peserta yang akan dijadikan sasaran kegiatan.
TBM diikuti oleh 7 peserta TBM dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, dan memperluas wawasan bagi mereka yang telah melek aksara, serta bagi mereka yang putus sekolah atau tamat sekolah tetapi tidak melanjutkan sebagai bekal untuk mengembangkan diri, bekerja atau berusaha secara mandiri dalam setiap aktivitas mereka dalam kehidupan di masyarakat. Adapun nama-nama serta identitas dari calon peserta praktik TBM adalah sebagai berikut:
FORMAT 1. CALON PESERTA PRAKTEK TBM
Nama Mahasiswa :TUMINA WAHYUNI
NIM : 835954027
POKJAR : Kota Bengkulu
UPBJJ UT : 19/Bengkulu
No.
|
Nama Warga
Belajar
|
Jenis Kelamin
(L/P)
|
Tempat dan
Tanggal Lahir
|
Alamat
|
1
|
Murni
|
P
|
Belitang,09 September1979
|
Kelurahan Tes
|
2
|
Siti
|
P
|
Taba Anyar,11 Oktober 1966
|
Kelurahan Tes
|
3
|
Sumasri
|
L
|
Tes,06 Oktober 1961
|
Kelurahan Tes
|
4
|
Dhear
|
P
|
Palawang,14 April 2003
|
Kelurahan Tes
|
5
|
Ayu
|
P
|
Tes,05 April,2003
|
Kelurahan Tes
|
6
|
Tari
|
P
|
Tes,05 Mei 2004
|
Kelurahan Tes
|
7
|
Teguh
|
L
|
Tes,05 Oktober 1998
|
Kelurahan Tes
|
3
Mengetahui, Insturktur Mata Kuliah
Lurah Tutor
(……………………….) (BAYU PRADIKTO)
B.Organisasi dan Manajemen TBM
Sebagai usaha dalam mempermudah langkah kerja kegiatan TBM agar berjalan dengan lancar sesuai dengan harapan masyarakat, maka disusunlah organisasi TBM sebagai berikut:
a. Kepala TBM :
b. Staf Bidang Administrasi :
c. Staf Bidang Layanan Pembaca :
Adapun tugas dari Deskripsi masing-masing bidang adalah sebagai berikut:
A. Kepala TBM
1. Memimpin TBM
2. Menyusun dan Menetapkan program
3. Mengembangkan dan Memajukan TBM
4. Melakukan kerja sama, baik antar TMB maupun Institusi lainnya (Pemerintah/swasta)
5. Mengoordinasikan serta Mengawasi/Mengontrol Pelaksanaan tugas Administrasi/pengolahan dan tugas-tugas layanan
B. Staf Bidang Administrasi
1. Mengurus kegiatan Administrasi dan Surat-Menyurat
4
2. Mengadakan Pemilihan dan Pengadaan bahan pustaka
3. Melasanakan Pengembangan Koleksi
4. Melasanakan Pengembangan bahan pustaka
5. Membuat laporan Administrasi dan Teknis
C. Staf Bidang Layanan Pembaca
1. Mempersipkan dan Mengatur tata tertip Layanan
2. Melakanakan/Menyelenggarakan Layanan
3. Melaksanankan Peminjaman bahan pustaka
4. Melaksanakan Administarasi keanggotaan
5. Membuat laporan Pelayanan dan pengunaan koleksi TBM
Struktur organisasi dikolaborasikan juga dengan Menajemen (Pengolaan) yang dapat diPertanggungjawankan, mulai dari Biaya Penyelenggarakan,Koleksi,Perlengkapan,Ruang TBM,Dan tenaga Pengelola.
1. Biaya Penyelenggaraan
Biaya Penyelenggaraan TBM terdiri atas sumber daya dan angaran.sumber dana
dapat di peroleh dari swadaya masyarakat,pemerintah,swasta,organisasi
kemasyarakatan,dan sumbangan dari orang lain yang tidak memikat. Komposisi
angaran disesuaikan dengan kebutuhan TBM. Komposisi angaran sebagai berikut:
a. Pengadaan bahan pustaka : 30 %
b. Pelaratan/sarana : 20 %
c. Promosi,kerja sama,dan Peningkatan minat baca : 10%
d. Biaya operasional TBM(honor Pengelola,ATK) : 40%
2. Koleksi
Jumlah koleksi minimal 300 judul, terdiri atas buku, majalah,surat kabar,leaflet, dan bahan audiovisiual. Dalam rangka pengembangan dan pembinaan minat baca masyarakat,maka di harapkan koleksi terbesar dari satu unit TBM adalah 40 % bahan bacaan hiburan,30% ilmu pengetahuan praktis, sementara sisanya 30% adalah ilmu-ilmu lainnya, seperti agama,politik,kesenian,hukum,dan pendidikan di lingkungan desa.
3. Perlengkapan
Sebagai sarana dan prasarana yang harus mendukung,sebuah TBM minimal memiliki perlengkapan/mebeler yang sesuai kondisi dan kebutuhan setiap TBM, yaitu:
a. Rak buku
b. Rak majalah
c. Tempat surat kabar
d. Meja kerja petugas
e. Fasilitas baca (meja,kursi,karpet,tikar)
4. Ruang TBM
Ruang TBM merupakan ruangan yang di peruntukan bagi sejumlah koleksi sebagaimana telah dipaparkan dalam sub perlengkapan/mebeler TBM. Yakni ruangan untuk menempatkan penglengkapan TBM dalam rangka belajar. Dalam ruangan ini juga di sediakan tempat untuk keperluan peminjaman dan pengembalian bahan pustaka.
5
5. Tenaga Pengelola
Tenaga pengelola merupakan komponen utama dalam kegiatan TBM. Perkembangan dan pembinaan serta pemberdayaan TBM banyak ditentukan oleh kemampuan tenaga pengelolanya.
Oleh karena itu mereka perlu di bekali pelatihan-pelatihan atau materi-materi yang berkenaan dengan:
a. Pengantar pustaka,dokumentasi,dan informasi
b. Menajemen TBM
c. Pemilihan/pengandaan bahan pustaka
d. Pengelolahan bahan pustaka
e. Pelayanan pembaca
B.Tempat Dan Waktu Pekasanaan
Kegiatan ini Dilaksanakan di Desa Bulu Manis yaitu Rumah milik Penulis. Kadang di luar ruangan (halaman rumah) dan di dalam rumah (ruang tamu) di jadikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) ini di beri Nama nama ini bermakna bahwa TBM ini diharabkan nantinya benar-benar Taman Bacaan Masyarakat bisa menjadi Bentuk pergerakan dalam mewujudkan tujuan Pendidikan Nasional yaitu Mencerdaskan kehidupan bangsa baik secara material maupun mental spiritual khususnya di daerah desa. Adapun waktu Pelaksaan ini di lakukan pada tanggal 16 April sampai 30 April 2017 di hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu.
BAB III
TAHAPAN PELAKSANAAN PROGRAM TBM
A.Strategi dalam Pelaksanaan Kegiatan TMB
Strategi yang dilakukan dalam program kegiatan ini yaitu membaca menyenangkan "Quantum reading" dan Menyadarkan Warga Belajar tentang pentingnya Membaca Dengan cara pendekatan emosional, baik secara perorangan dengan melakukan kunjungan dari satu orang maupun secara kelompok dengan mengumplkan mereka dalam situasi yang tidak perlu formal, dengan stuasi demikian warga belajar akan merasa nyaman untuk memisahkan segala permasalahan atau kendala yang menjadi penghambat mereka dalam kegiatan membaca.
B.Strategi dalam Meningkatkan minat baca Warga Belajar
Upaya yang dilakukan dalam upaya meningkatkan minat baca warga belajar yaitu melalui program-program yang disusun dalam pelaksanaan TBM antara lain:
6
a. Memilih bacaan mulai yang sederhana dan tidak terlalu tebal,banyak gambar, serta sesuai dengan kebutuhan kerja warga
b. Menarik minat baca warga belajar dengan memberi contoh membaca terlebih dahulu kemudian meminta kepada warga lain untuk meneruskan bacaan yang telah kita baca.
c. Apabila ada warga yang mengalami kesulitan mengenal kata, kita bantu dengan menyuruhnya untuk memperkirakan dengan kalimat sendiri lanjutan dari kalimat yang terpotong tersebut atau meminta kepada warga belajar lain untuk meneruskan bacaan
d. Untuk membuat suasana belajar mungkin menyenangkan kegiatan membaca ini diselingi dengan kegiatan-kegiatan lain berupa penyuluhan tentang cara bercocok tanam yang jitu untuk tanaman para warga belajar, atau informasi aktual lainnya yang bermanfaat untuk di ketahui warga belajar gemar baca atau diselingi dengan senam kebugaran jasmani
e. Tempat untuk melakukan kegiantan gemar baca tidak selalu berada dalam ruangan, namun kadang-kadang di lakukan di tempat-tempat terbuka seperti di halaman rumah
C.Jadwal Pelaksaan kegiatan TBM
Pelaksanaan Kegiatan program TBM pada saat pertemuan pertama telah disepakati diselenggarakan pada hari minggu, jum’at, dan sabtu siang (14.00 - 17.00),namun ternyata tidak seluruh peserta bisa hadir secara serentak. Oleh karena itu telah dilakukan perubahan jadwal kegiatan melalui kesepakatan bersama, bahwasanya pertemuan-pertemuan berikutnya dilaksanakan pada hari minggu, sabtu dan jum’at siang, dimulai jam 14.30 s/d 17.00 WIB
JADWAL KEGIATAN TBM GURUDA SAKTI
NO
|
Hari / Tanggal
|
Materi pelajaran
|
1
|
Minggu, 16 April 2017
|
Wacana tentang Mengenal Tumbuhan
|
2
|
Jum’at, 21 April 2017
|
Wacana tentang Peta Dunia
|
3
|
Sabtu, 22 April 2017
|
Wacana tentang Sejarah Peninggalan Kerajaan Kutai
|
4
|
Minggu, 23 April 2017
|
Wacana tentang Mengenal Buah buahan
|
5
|
Jum’at, 28 April 2017
|
Wacana tentang Hewan Berkaki empat
|
6
|
Sabtu, 29 April 2017
|
Wacana tentang Kancil Dan Buaya
|
7
|
Minggu, 30 April 2017
|
Wacana tentang Sepatu Baru Andi
|
D.Skenario Dalam Proses Pembelajaran
Skenario dalam proses ini dilakukan beberapa tahap yaitu
1. Memulai dengan materi awal yang menyenangkan berupa kegiatan yang inovatif,motivatif,insfiratif
2. Memberikan apersepsi dan apresiasi berupa betapa pentingnya membaca
3. Memperaktekkan masing-masing wacana baik secara perorangan maupun berpasangan
7
Ada pun Skenario yang di jalankan dalam proses TBM adalah sebagai berikut:
Format 2. Skenario kegiatan sosialisasi praktik TBM
Nama Mahasiswa :Tumina wahyuni
NIM : 835954027
POKJAR : Kota Bengkulu
UPBJJ UT : 19/Bengkulu
No
|
Materi sajian
|
Deskripsi Sajian
|
Waktu
|
Metode yang di gunakan
|
1.
|
Apersepsi
|
-Memotivasi warga belajar betapa pentingnya penguasaan akan ilmu pengetahuan dari akan pentingnya membaca
-Mempersiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam TBM
-Menanyakan apa-apa yang menjadi kendala dalam kegiatan membaca
|
10 Menit
|
Tanya jawab
|
2.
|
Penyadaran pentingnya kemampuan membaca
|
-Dengan membaca akan menambah wawasan dan pengetahuan sehingga akan mampu meningkatkan pola pikir dan cara hidup yang lebih baik
-Menjelaskan kepada warga arti pentingnya membaca dan mengajak warga untuk menumbuhkan kesadaran budaya membaca dalam kehidupan sehari-hari
|
40 Menit
|
Ceramah dan tanya jawab
|
3.
|
Penutup
|
-Membaca berpengaruh kepada warga belajar dengan mengambil sikap dalam memecahkan masalah
-Kesimpulan dan saran
-Acara lain-lain
|
10 Menit
|
Tanya jawab
|
Mengetahui,
Lurah Intruktur Mata kuliah
………………………… BAYU PRADIKTO,M.pd
8
E.Kedala dan Upaya Penanggulangan masalah TBM
Dalam pelaksanaan praktik pembinaan di TBM INDAH PELANGI ini penulis meneraui beberapa kendala. Dari diri penulis sendiri sekaligus sebagai tutor pendidikan, kendala-kendala tersebut diantaranya yaitu: (1) kurang mengajak peserta belajar terlibat secara aktif saat proses belajar sehingga penguasaan kelas masih kurang, (3) pada saat memberikan penjelasan dan contoh bacaan sedikit terlalu cepat sehingga agak sulit dipahami oleh peserta belajar yang kategorinya lambat, (2) masih kurangnya membimbing peserta belajar dengan cara berkeliling pada saat peserta belajar menyelesaikan latihan dan praktik membaca secara berpasangan, sehingga tidak mengetahui peserta belajar mana yang mengalami kesulitan.
Untuk mengatasi hal tersebut, tutor pendidikan mendiskusikan dengan peserta belajar dan berkonsultasi dengan teman se-angkatan yang menangani kegiatan serupa untuk menentukan langkah-langkah perbaikan pada pembelajaran selanjutnya. Berdasarkan hasil diskusi dan konsultasi diketahui bahwa selama pembelajaran berlangsung masih banyak peserta belajar yang kurang perhatian dan masih ada yang belum paham tentang cara atau teknik membaca menyenangkan secara benar.
Media penggunaan yang digunakan masih terbatas pada bahan bacaaan yang kurang begitu menarik Bagi perserta belajar misalnya cerita rakyat nusantra,buku-buku sejarah nasional, Patut dimaklumi, sebab bahan bacaan tersebut adalah koleksi penulis sendiri sebagai bahan mengajar di sekolah dasar tempat penulis bekerja. Untuk mengatasi hal ini, kemudian penulis berusaha untuk mencari bahan bacaan yang sesuai dengan membeli di toko buku dan meminta bantuan ke teman-tean yang mempunyai koleksi bacaan yang relevan dengan peserta belajar untuk kemudian dihibahkan secara cuma-cuma di GARUDA SAKTI tempat penulis mengadakan pembinaan taman bacaan masyarakat.
BAB IV
TAHAPAN EVALUASI KEGIATAN TBM
Evaluasi yang dilakukan tidak hanya melibatkan supervisor, tetapi juga desa dan tutor dikmas. Namun untuk keeperluan penilain, supervisor yang di tunjuk UPBJJ-UT saja yang memberikan penilai, sementara pihak desa/tutor adalah narasumber yang berjalan. Dalam tahapan ini supervisor akan mengunjungi TBM kami bentuk guna melihat hasil warga belajar selama 20 hari dengan melihat jumlah wacana yang mampu mereka baca selama masa pembinaan.
Format 3. Evaluasi praktik TBM
Nama Mahasiswa : MAIMUN
NIM : 835667754
POKJAR : Duri/a
UPBJJ UT : Pekan Baru
Masa Ujian : 60 menit
Alamat Warga Belajar : JL. Sultan syarif qasim
9
No.
|
Nama warga belajar
|
Jenis kelamin (P/L)
|
Nilai
|
Komentar umum
|
Kendala yang dihadapi
| ||||
1
|
2
|
3
| |||||||
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(5)
|
(6)
| ||||
1.
|
Lala Anggraini
|
P
|
Bisa Membaca dengan sangat baik. Intonasi jelas
|
Sering melupakan tanda baca
| |||||
2.
|
Siti Namiroh
|
P
|
Bisa membaca dengan baik tapi intonasi kurang jelas
|
Susah mengucapkan kata-kata yang sulit di ucapkan
| |||||
3.
|
Raisa Sunandar
|
P
|
Tidak terlalu lancar membaca
|
Sulit mengingat kata yang panjang
| |||||
4.
|
Afdal Nanda
|
L
|
Tidak terlalu lancar membaca
|
Sulit mengingat kata yang panjang
| |||||
5.
|
Nino Safana
|
P
|
Bisa membaca dengan baik tapi intonasi kurang jelas
|
Susah mengucapkan kata-kata yang sulit di ucapakan
| |||||
6.
|
Raihan Putra
|
L
|
Kurang bisa membaca, intonasi sedikit kurang jelas
|
Susah mengucapkan kata-kata yang sulit di ucapakan
| |||||
7.
|
Zakia Dwi Saputri
|
P
|
Bisa membaca dengan baik tapi intonasi kurang jelas
|
Susah mengingat kata-kata yang susah di ucapkan
| |||||
Ket:
Nilai: angka 1=1 wacana, 2=2-4 Wacana, 3=5-7 Wacana.
Mengetahui,
Kepala UPBJJ-UT Intruktur Mata kuliah
Dr.H.Sugilar Bayu pradikto,M.pd
NIP:1957050319870310002
NIP:1957050319870310002
10
DAFTAR PUSTAKA
Ihat Hatimah, dkk, 2007. Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan. Universitas Terbuka. Jakarta.
Pusat Bahasa, 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Sarumpaet, Rids, 1976. Bacaan Anak-Anak. Jakarta : Pustaka Jaya.
Utorodewo, Felicia N, 2007 Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah. Jakarta:internet
LAPORAN KEGIATAN PRAKTEK
TAMAN BACAAN MASYARAKAT GARUDA SAKTI
DESA SIMPANG PADANG
KECAMATAN MANDAU
KABUPATEN BANGKALIS
OLEH
MAIMUN
NIM. 835667754
KELAS A
PROGRAM S1 PGSD GURU KELAS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UPJJ-UT 16/PEKANBARU
UNIVERSITAS TERBUKA
PEKAN BARU
2017
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah begitu banyak melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas praktek pembelajaran berwawasan kemasyarakatan.
Tugas praktek ini adalah untuk memenuhi syarat dalam penyerahan laporan praktek mata kuliah pembelajaran berwawasan kemasyarakatan. Adapun judul dalam penulisan tugas praktek ini adalah “Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Pada Kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih yang setulus-tulusnya atas semua saran, bimbingan dan bantuan kepada :
1. Ibuk Dewi Indrayeni,M.Pd selaku Dosen/Tutor mata kuliah Pembelajaran Berwawasan Kemasyarkatan.
2. Bapak/ibuk Pengurus Desa
3. Keluarga yang memberikan dorongan spiritual dan material dalam pembuatan tugas ini.
4. Rekan-rekan seperjuangan mahasiswa S1 PGSD Guru Universitas Terbuka UPJJ-UT 16 Pekan Baru Pokjar Duri a
5. Seluruh warga belajar yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah turutberperan serta dalam mengikuti program taman bacaan masyarakat
Tugas praktek Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saran, kritik dan masukan yang bersifat membangun sangat penulis harapkan semoga hasil dari tugas praktek Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih.
Duri, 16 April 2017
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................... iii
A. Latar Belakang................................................................................................... 1
B. Pengertian TMB................................................................................................
C. Tujuan Kegiatan TBM......................................................................................
D. Manfaat Kegiatan TBM....................................................................................
BAB II TAHAPAN PELAKSANAAN PRAKTEK TBM.......................................
A. Langkah-Langkah jalan TBM.........................................................................
Format 1...........................................................................................................
B. Organisasi Dan menajemen TBM......................................................................
C. Tempat dan Waktu dilaksanakan TBM.............................................................
D. Strategi dalam Pelaksanaan TBM......................................................................
E. Strategi dalam Meningakatkan Minat Baca.......................................................
F. Jadwal Pelaksaaan TBM.....................................................................................
G. Skenario Dalam Proses pembelajaran.................................................................
Format 2............................................................................................................
H. Kendala dan Upaya Penanggulangan Masalah TBM.........................................
BAB III TAHAPAN EVALUASI TBM...................................................................
Format 3........................................................................................................................
Dokumentasi saat pelaksaan kegiatan TBM.................................................................
Daftar Pustaka..............................................................................................................
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN....................................................................
A. Kesimpulan..............................................................................................................
B. Saran- Saran.............................................................................................................
C.Tindak Lanjut............................................................................................................
D. Lampiran format kebutuhan kegiatan .....................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Salah satu program pendidikan sebagai tindak lanjut dan implementasi program pemerintah yang turut mendukung keberhasilan pembangunan dunia pendidikan adalah adanya pengembangan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). TBM adalah salah satu program pemerintah yang mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 6 ayat (4), tercantum bahwa satuan pendidikan non formal terdiri atas lembaga khusus, lembaga pelatihan, kelompok belajar pusat kegiatan belajar masyarakat, majelis taklim, serta satuan pendidikan yang se
Program TBM telah dimulai sejak tahun 1992/1993. Kehadiran TBM merupakan pembaharuan dari Taman Pustaka Rakyat (TPR) yang didirikan oleh masyarakat pada tahun lima puluhan. Program TBM ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan budaya baca masyarakat. Oleh karna itu, keberadaan TBM sangat penting sebagai sarana belajar masyarakat. Dengan demikian, sebagai sarana yang diharabkan dapat menjadi pembina dalam kegiatan pemberantasan buta aksara.
B. Pengerian TBM
Taman Bacaan Masyarakat (TBM) merupakan lembaga yang menyediakan bahan bacaan yang dibutuhkan oleh masyarakat sebagai tempat penyelenggaraan pembinaan kemampuan membaca dan belajar. Selain itu, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) juga merupakan tempat yang digunakan sebagai tempat untuk mendapatkan informasi bagi masyarakat, khususnya yang bersumber dari bahan pustaka, bahan pustaka itu sendiri merupakan semua jenis bahan bacaan dalam berbagai bentuk media.
C. Tujuan Kegiatan TBM
Tujuan yang ingin dicapai dengan adanya kegiatan TBM ini adalah membangkitkan dan meningkatkan minat baca sehingga tercipta masyarakat yang cerdas, menjadi sebuah wadah kegiatan belajar masyarakat, dan mengningkatkan peningkatan kemampuan aksarawan baru dalam rangka pemberantasan buta aksara sehingga mereka yang telah “melek huruf” tidak menjadi buta aksara kembali. Dan bisa mewujudkan masyarakat gemar membaca (reading society) dan gemar belajar ((learning society).
D. Manfaat kegiatan TBM
Praktek ini memiliki manfaat bagi berbagai pihak antara lain :
A. Warga Belajar
1. Dapat meningkatkan minat kecintaan, dan kegemaran membaca.
2. Memperkaya pengalaman belajar dan pengetahuan.
3. Menumbuhkan kegiatan belajar mandiri.
4. Membantu pengembangan kecukupan membaca.
5. Menambah wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
B. Bagi Masyarakat
1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat.
2. Meningkatkan masyarakat yang bermutu dan berkualitas.
3. Memotivasi masyarakat untuk kecintaan ilmu pengetahuan.
C. Bagi Peneliti
Sebagai bahan untuk peningkatan profesional mahasiswa dan menambah pengetahuan serta wawasan dalam bidang pendidikan di masa yang akan datang.
BAB II
TAHAPAN PELAKSANAAN PRAKTEK TBM
A.Langkah-langkah jalannya TBM
Langkah pertama dalam usaha penyusunan program kegiatan TBM ini adalah penulis mencari informasi dari kepala desa atau perangkat untuk mencari data tentang 7 warga belajar yang masih buta aksara, ataupun yang putus sekolah kemudian mendokumentasikan calon peserta yang akan menjadi sasaran kegiatan berdasarkan data yang diperoleh dari desa. langkah berikutnya menyusun daftar calon peserta yang akan dijadikan sasaran kegiatan.
TBM diikuti oleh 7 peserta TBM dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, dan memperluas wawasan bagi mereka yang telah melek aksara, serta bagi mereka yang putus sekolah atau tamat sekolah tetapi tidak melanjutkan sebagai bekal untuk mengembangkan diri, bekerja atau berusaha secara mandiri dalam setiap aktivitas mereka dalam kehidupan di masyarakat. Adapun nama-nama serta identitas dari calon peserta praktik TBM adalah sebagai berikut:
FORMAT 1. CALON PESERTA PRAKTEK TBM
Nama Mahasiswa :TUMINA WAHYUNI
NIM : 835954027
POKJAR : Kota Bengkulu
UPBJJ UT : 19/Bengkulu
No.
|
Nama Warga
Belajar
|
Jenis Kelamin
(L/P)
|
Tempat dan
Tanggal Lahir
|
Alamat
|
1
|
Murni
|
P
|
Belitang,09 September1979
|
Kelurahan Tes
|
2
|
Siti
|
P
|
Taba Anyar,11 Oktober 1966
|
Kelurahan Tes
|
3
|
Sumasri
|
L
|
Tes,06 Oktober 1961
|
Kelurahan Tes
|
4
|
Dhear
|
P
|
Palawang,14 April 2003
|
Kelurahan Tes
|
5
|
Ayu
|
P
|
Tes,05 April,2003
|
Kelurahan Tes
|
6
|
Tari
|
P
|
Tes,05 Mei 2004
|
Kelurahan Tes
|
7
|
Teguh
|
L
|
Tes,05 Oktober 1998
|
Kelurahan Tes
|
B.Organisasi dan Manajemen TBM
Sebagai usaha dalam mempermudah langkah kerja kegiatan TBM agar berjalan dengan lancar sesuai dengan harapan masyarakat, maka disusunlah organisasi TBM sebagai berikut:
a. Kepala TBM :
b. Staf Bidang Administrasi :
c. Staf Bidang Layanan Pembaca :
Adapun tugas dari Deskripsi masing-masing bidang adalah sebagai berikut:
A. Kepala TBM
1. Memimpin TBM
2. Menyusun dan Menetapkan program
3. Mengembangkan dan Memajukan TBM
4. Melakukan kerja sama, baik antar TMB maupun Institusi lainnya (Pemerintah/swasta)
5. Mengoordinasikan serta Mengawasi/Mengontrol Pelaksanaan tugas Administrasi/pengolahan dan tugas-tugas layanan
B. Staf Bidang Administrasi
1. Mengurus kegiatan Administrasi dan Surat-Menyurat
4
2. Mengadakan Pemilihan dan Pengadaan bahan pustaka
3. Melasanakan Pengembangan Koleksi
4. Melasanakan Pengembangan bahan pustaka
5. Membuat laporan Administrasi dan Teknis
C. Staf Bidang Layanan Pembaca
1. Mempersipkan dan Mengatur tata tertip Layanan
2. Melakanakan/Menyelenggarakan Layanan
3. Melaksanankan Peminjaman bahan pustaka
4. Melaksanakan Administarasi keanggotaan
5. Membuat laporan Pelayanan dan pengunaan koleksi TBM
Struktur organisasi dikolaborasikan juga dengan Menajemen (Pengolaan) yang dapat diPertanggungjawankan, mulai dari Biaya Penyelenggarakan,Koleksi,Perlengkapan,Ruang TBM,Dan tenaga Pengelola.
1. Biaya Penyelenggaraan
Biaya Penyelenggaraan TBM terdiri atas sumber daya dan angaran.sumber dana
dapat di peroleh dari swadaya masyarakat,pemerintah,swasta,organisasi
kemasyarakatan,dan sumbangan dari orang lain yang tidak memikat. Komposisi
angaran disesuaikan dengan kebutuhan TBM. Komposisi angaran sebagai berikut:
a. Pengadaan bahan pustaka : 30 %
b. Pelaratan/sarana : 20 %
c. Promosi,kerja sama,dan Peningkatan minat baca : 10%
d. Biaya operasional TBM(honor Pengelola,ATK) : 40%
2. Koleksi
Jumlah koleksi minimal 300 judul, terdiri atas buku, majalah,surat kabar,leaflet, dan bahan audiovisiual. Dalam rangka pengembangan dan pembinaan minat baca masyarakat,maka di harapkan koleksi terbesar dari satu unit TBM adalah 40 % bahan bacaan hiburan,30% ilmu pengetahuan praktis, sementara sisanya 30% adalah ilmu-ilmu lainnya, seperti agama,politik,kesenian,hukum,dan pendidikan di lingkungan desa.
3. Perlengkapan
Sebagai sarana dan prasarana yang harus mendukung,sebuah TBM minimal memiliki perlengkapan/mebeler yang sesuai kondisi dan kebutuhan setiap TBM, yaitu:
a. Rak buku
b. Rak majalah
c. Tempat surat kabar
d. Meja kerja petugas
e. Fasilitas baca (meja,kursi,karpet,tikar)
4. Ruang TBM
Ruang TBM merupakan ruangan yang di peruntukan bagi sejumlah koleksi sebagaimana telah dipaparkan dalam sub perlengkapan/mebeler TBM. Yakni ruangan untuk menempatkan penglengkapan TBM dalam rangka belajar. Dalam ruangan ini juga di sediakan tempat untuk keperluan peminjaman dan pengembalian bahan pustaka.
5. Tenaga Pengelola
Tenaga pengelola merupakan komponen utama dalam kegiatan TBM. Perkembangan dan pembinaan serta pemberdayaan TBM banyak ditentukan oleh kemampuan tenaga pengelolanya.
Oleh karena itu mereka perlu di bekali pelatihan-pelatihan atau materi-materi yang berkenaan dengan:
a. Pengantar pustaka,dokumentasi,dan informasi
b. Menajemen TBM
c. Pemilihan/pengandaan bahan pustaka
d. Pengelolahan bahan pustaka
e. Pelayanan pembaca
C.Tempat Dan Waktu Pekasanaan
Kegiatan ini Dilaksanakan di Desa Bulu Manis yaitu Rumah milik Penulis. Kadang di luar ruangan (halaman rumah) dan di dalam rumah (ruang tamu) di jadikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) ini di beri Nama nama ini bermakna bahwa TBM ini diharabkan nantinya benar-benar Taman Bacaan Masyarakat bisa menjadi Bentuk pergerakan dalam mewujudkan tujuan Pendidikan Nasional yaitu Mencerdaskan kehidupan bangsa baik secara material maupun mental spiritual khususnya di daerah desa. Adapun waktu Pelaksaan ini di lakukan pada tanggal 16 April sampai 30 April 2017 di hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu.
D.Strategi dalam Pelaksanaan Kegiatan TMB
Strategi yang dilakukan dalam program kegiatan ini yaitu membaca menyenangkan "Quantum reading" dan Menyadarkan Warga Belajar tentang pentingnya Membaca Dengan cara pendekatan emosional, baik secara perorangan dengan melakukan kunjungan dari satu orang maupun secara kelompok dengan mengumplkan mereka dalam situasi yang tidak perlu formal, dengan stuasi demikian warga belajar akan merasa nyaman untuk memisahkan segala permasalahan atau kendala yang menjadi penghambat mereka dalam kegiatan membaca.
E.Strategi dalam Meningkatkan minat baca Warga Belajar
Upaya yang dilakukan dalam upaya meningkatkan minat baca warga belajar yaitu melalui program-program yang disusun dalam pelaksanaan TBM antara lain:
a. Memilih bacaan mulai yang sederhana dan tidak terlalu tebal,banyak gambar, serta sesuai dengan kebutuhan kerja warga
b. Menarik minat baca warga belajar dengan memberi contoh membaca terlebih dahulu kemudian meminta kepada warga lain untuk meneruskan bacaan yang telah kita baca.
c. Apabila ada warga yang mengalami kesulitan mengenal kata, kita bantu dengan menyuruhnya untuk memperkirakan dengan kalimat sendiri lanjutan dari kalimat yang terpotong tersebut atau meminta kepada warga belajar lain untuk meneruskan bacaan
d. Untuk membuat suasana belajar mungkin menyenangkan kegiatan membaca ini diselingi dengan kegiatan-kegiatan lain berupa penyuluhan tentang cara bercocok tanam yang jitu untuk tanaman para warga belajar, atau informasi aktual lainnya yang bermanfaat untuk di ketahui warga belajar gemar baca atau diselingi dengan senam kebugaran jasmani
e. Tempat untuk melakukan kegiantan gemar baca tidak selalu berada dalam ruangan, namun kadang-kadang di lakukan di tempat-tempat terbuka seperti di halaman rumah
F.Jadwal Pelaksaan kegiatan TBM
Pelaksanaan Kegiatan program TBM pada saat pertemuan pertama telah disepakati diselenggarakan pada hari minggu, jum’at, dan sabtu siang (14.00 - 17.00),namun ternyata tidak seluruh peserta bisa hadir secara serentak. Oleh karena itu telah dilakukan perubahan jadwal kegiatan melalui kesepakatan bersama, bahwasanya pertemuan-pertemuan berikutnya dilaksanakan pada hari minggu, sabtu dan jum’at siang, dimulai jam 14.30 s/d 17.00 WIB
JADWAL KEGIATAN TBM GURUDA SAKTI
NO
|
Hari / Tanggal
|
Materi pelajaran
|
1
|
Minggu, 16 April 2017
|
Wacana tentang Mengenal Tumbuhan
|
2
|
Jum’at, 21 April 2017
|
Wacana tentang Peta Dunia
|
3
|
Sabtu, 22 April 2017
|
Wacana tentang Sejarah Peninggalan Kerajaan Kutai
|
4
|
Minggu, 23 April 2017
|
Wacana tentang Mengenal Buah buahan
|
5
|
Jum’at, 28 April 2017
|
Wacana tentang Hewan Berkaki empat
|
6
|
Sabtu, 29 April 2017
|
Wacana tentang Kancil Dan Buaya
|
7
|
Minggu, 30 April 2017
|
Wacana tentang Sepatu Baru Andi
|
G.Skenario Dalam Proses Pembelajaran
Skenario dalam proses ini dilakukan beberapa tahap yaitu
1. Memulai dengan materi awal yang menyenangkan berupa kegiatan yang inovatif,motivatif,insfiratif
2. Memberikan apersepsi dan apresiasi berupa betapa pentingnya membaca
3. Memperaktekkan masing-masing wacana baik secara perorangan maupun berpasangan
Ada pun Skenario yang di jalankan dalam proses TBM adalah sebagai berikut:
Format 2. Skenario kegiatan sosialisasi praktik TBM
Nama Mahasiswa :Tumina wahyuni
NIM : 835954027
POKJAR : Kota Bengkulu
UPBJJ UT : 19/Bengkulu
No
|
Materi sajian
|
Deskripsi Sajian
|
Waktu
|
Metode yang di gunakan
|
1.
|
Apersepsi
|
-Memotivasi warga belajar betapa pentingnya penguasaan akan ilmu pengetahuan dari akan pentingnya membaca
-Mempersiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam TBM
-Menanyakan apa-apa yang menjadi kendala dalam kegiatan membaca
|
10 Menit
|
Tanya jawab
|
2.
|
Penyadaran pentingnya kemampuan membaca
|
-Dengan membaca akan menambah wawasan dan pengetahuan sehingga akan mampu meningkatkan pola pikir dan cara hidup yang lebih baik
-Menjelaskan kepada warga arti pentingnya membaca dan mengajak warga untuk menumbuhkan kesadaran budaya membaca dalam kehidupan sehari-hari
|
40 Menit
|
Ceramah dan tanya jawab
|
3.
|
Penutup
|
-Membaca berpengaruh kepada warga belajar dengan mengambil sikap dalam memecahkan masalah
-Kesimpulan dan saran
-Acara lain-lain
|
10 Menit
|
Tanya jawab
|
H.Kedala dan Upaya Penanggulangan masalah TBM
Dalam pelaksanaan praktik pembinaan di TBM INDAH PELANGI ini penulis meneraui beberapa kendala. Dari diri penulis sendiri sekaligus sebagai tutor pendidikan, kendala-kendala tersebut diantaranya yaitu: (1) kurang mengajak peserta belajar terlibat secara aktif saat proses belajar sehingga penguasaan kelas masih kurang, (3) pada saat memberikan penjelasan dan contoh bacaan sedikit terlalu cepat sehingga agak sulit dipahami oleh peserta belajar yang kategorinya lambat, (2) masih kurangnya membimbing peserta belajar dengan cara berkeliling pada saat peserta belajar menyelesaikan latihan dan praktik membaca secara berpasangan, sehingga tidak mengetahui peserta belajar mana yang mengalami kesulitan.
Untuk mengatasi hal tersebut, tutor pendidikan mendiskusikan dengan peserta belajar dan berkonsultasi dengan teman se-angkatan yang menangani kegiatan serupa untuk menentukan langkah-langkah perbaikan pada pembelajaran selanjutnya. Berdasarkan hasil diskusi dan konsultasi diketahui bahwa selama pembelajaran berlangsung masih banyak peserta belajar yang kurang perhatian dan masih ada yang belum paham tentang cara atau teknik membaca menyenangkan secara benar.
Media penggunaan yang digunakan masih terbatas pada bahan bacaaan yang kurang begitu menarik Bagi perserta belajar misalnya cerita rakyat nusantra,buku-buku sejarah nasional, Patut dimaklumi, sebab bahan bacaan tersebut adalah koleksi penulis sendiri sebagai bahan mengajar di sekolah dasar tempat penulis bekerja. Untuk mengatasi hal ini, kemudian penulis berusaha untuk mencari bahan bacaan yang sesuai dengan membeli di toko buku dan meminta bantuan ke teman-tean yang mempunyai koleksi bacaan yang relevan dengan peserta belajar untuk kemudian dihibahkan secara cuma-cuma di GARUDA SAKTI tempat penulis mengadakan pembinaan taman bacaan
No comments:
Post a Comment