kumpulan cerita rakyat lebong mengkisahkan cerita orang orang sebelumnya yang menjadi legenda hingga skarang..
cerita dikutip dari cerita rakyat asli lebong baik yang sekarang maupun yang terdahulu...
inilah kumpulannya...
ASAL USUL DESA BENTANGUR
Dahulu kala ada sebuah desa,nama desa ulok libea.desa tersebut
terletak antara desa tunggang dan desa air kopras (sekarang) dan desa ini terletak di pinggir sungai ketahun.desa ulok libea di perintah oleh seorang yang bergelar rajo mankurat adalah keturunan dari keramat lebong.
terletak antara desa tunggang dan desa air kopras (sekarang) dan desa ini terletak di pinggir sungai ketahun.desa ulok libea di perintah oleh seorang yang bergelar rajo mankurat adalah keturunan dari keramat lebong.
terletak antara desa tunggang dan desa air kopras (sekarang) dan desa ini terletak di pinggir sungai ketahun.desa ulok libea di perintah oleh seorang yang bergelar rajo mankurat adalah keturunan dari keramat lebong.
terletak antara desa tunggang dan desa air kopras (sekarang) dan desa ini terletak di pinggir sungai ketahun.desa ulok libea di perintah oleh seorang yang bergelar rajo mankurat adalah keturunan dari keramat lebong.
terletak antara desa tunggang dan desa air kopras (sekarang) dan desa ini terletak di pinggir sungai ketahun.desa ulok libea di perintah oleh seorang yang bergelar rajo mankurat adalah keturunan dari keramat lebong.
terletak antara desa tunggang dan desa air kopras (sekarang) dan desa ini terletak di pinggir sungai ketahun.desa ulok libea di perintah oleh seorang yang bergelar rajo mankurat adalah keturunan dari keramat lebong.
terletak antara desa tunggang dan desa air kopras (sekarang) dan desa ini terletak di pinggir sungai ketahun.desa ulok libea di perintah oleh seorang yang bergelar rajo mankurat adalah keturunan dari keramat lebong.
terletak antara desa tunggang dan desa air kopras (sekarang) dan desa ini terletak di pinggir sungai ketahun.desa ulok libea di perintah oleh seorang yang bergelar rajo mankurat adalah keturunan dari keramat lebong.
terletak antara desa tunggang dan desa air kopras (sekarang) dan desa ini terletak di pinggir sungai ketahun.desa ulok libea di perintah oleh seorang yang bergelar rajo mankurat adalah keturunan dari keramat lebong.
Adapun mata pencarian penduduk desa ulok libea adalah berladang .berkebun dan mencari ikan di pinggir sungai ketahun .pada waktu jalan raya belum ada,hubungan lalulintas hanya di lakukan melalui sungai ketahun.oleh sebab itu pungsi biduk dan rakit sangat besar artinya bagi penduduk desa ulok libea
Biduk adalah sebagai alat perhubungan dan alat mencari ikan seperti menjalah,memasan tajua pancing,bubu,dan sebagainya. Oleh sebab itu hampir titap tiap rumah penduduk Desa Ulok libea mempunyai satu bahan biduk,bahkan ada yang mempunyai dua biduk dalam satu kluarga.Biduk yang di pakai adalah Biduk KembangMasak.Cara membuatnya:mula-mula dicari kayu dihutan yang kuat dan tahan air serta lurus,lalu ditebang dan diptong sesuai dengan ukuran panjang yang di perlukan.kayu lurus dibentuk dan dilubangodengan menggunakan kampak,beliung dan alat lainnya.pekerjaan dilakukan secara bergotong royongselama tiga hari bahkan sampai tujuh hari.Setelah siap baru dikembangkan menggunakan api pada bagian bawah biduk tersebut.setelah biduk panas,barulah dikembangkan.setelah selesai dikembangkan, kemudian ditarik bersama sama ke air ketahun dan biduk siap dipakai.
Pada waktu pembuatan biduk di hutan,ada sesuatu keanehan yang sering terjadi.Yang manasewaktu mereka pulang,alat alat bekerja disembunyikan pada tempat bekerja, lalu keesokan harinya ketika mereka akan mulai bekerja lagi mereka menemukan ada ada saja bekas kerja,yang mana bahan biduk yang akan diselesaikan sudah rusak berlubang karena dikerjakan oleh orang lain.
Akhirnya setelah bahan tadi rusak terpaksa dicari kayu lain sebagai penggantinya. Melihat hal hal yang sering terjadi,lalu diselidiki siapa yang merusaknya.Rupanya memang benar sepeninggal mereka pulang,datnglah serombongan sebangsa binatang yang berbulu panjang seperti manusia,mengambil alat tukang yang di sembunyikan dan terus meniru manusia bekerja.Memang rupanya sifat mereka suka meniru apa sajayang mereka liat pekerjaan manusia.Oleh orang Ulok libea mereka dinamakan bangsa tirau atau guguak.(tirau artinya suka meniru)
dengan terjadinya yhal hal demikian, mufakatlah penduduk desa ulok libea untuk menangkap mereka,karena penduduk sudah mengetahui sifat sifat guguak suka meniru.Maka dibuatlah anyaman (kaping)dari rotan denagmn ukuran masuk llengan siku,siku lutut, badan.kaping kapingmereka buat banyak lalu mereka bawa ke hutan.Dihutan meraka praktekkan cara memasangnya,mula mula kesiku siku lengan kemudian ke siku siku kaki dan terus kebadan.
Pada waktu mereka memasang,bangsa guguak mengintip dari cela celahutan, kemudsian kaping kaping tersebut di tinggalkan di hutan oleh penduduk, lalu penduduk pura pura pulang dan segera mengintai.
Tidak lama kemudian, datanglah bangsa guguakmengambil kaping kaping tersebut dan mencoba memasangnya pada badannya seperti yang dilakukan oleh penduduk yang bekerja tadi.Lalu datanglah penduduk menjebaknya secara bersama sama lalu diikan dan di bawa pulang ke desa.Setiba di desa, guguak guguak tersebutdi masukkan kedalam kandang tertutup dibawah rumah.
Guguak guguak tersebut dipelihara dan di jinakkan serta di ajarkan untuk terbiasa makan nasi. Untuk mengajae makan nasi,tiap hari badan mereka di siram dengan air panasyaitu air bekas kerak nasi(bioa kecek).Kemudian mereka diberi baju dan sudah berbaur dengan masyarakat desa ulok libea
Sekali peristiwa setelah beberapatahun kemudian,raja mengkurat akan melaksanakan kedai untuk mengawinkan anak nya.untuk membuat balai biasanya di siapkan tiang penyukung(tiang tengah) kayu yang besar dan panjang.
maka untuk membawa kayu tiang penyukung tersebut,bagian depan dibusung sendiri oleh raja mangkurat, dan bagian belakang oleh bangsa bangsa guguakbersama sama.Setibanya di desa, guguak tidak menunggu aba abalagi dan langsung membanting bagian blakang,sehingga karena getaran kayu tadi,sampai lutuk kaki raja mangkurat terbenam ke tanah
dengan peristiwa tersebut, raja mangkurat mengetahui bahwa bangsa guguak adalah berniat jahat pada penduduk desa ulok libea. Lama kelamaan hal tersebut semakin meruncing dan terjadilah perang antar penduduk ulok libea dengan bangsa guguak guguak yangsudah berkermbang.keturunan bangsa guguak bersatu untuk menentang desa ulok libea peperangan hebatpun terjadi.
didesa,nampaknya bangsa guguak lemah akan tetapi kalau di hutan mereka kuat,maklum mereka adalah orang hutan.Akhirnya raja membakar bulu bulu mereka dahulu yang di simpan
kemudian setelah perang berakhir, tampanya masyarakat desa ulok libea masih merasa was was, jangan- jangan bangsa guguak menyerang lagi dan memperhatikan tanah tempat berladang sudah sangat gersang, dan untuk mengatasinya harus berpindah pindah tempat berladang, sedangkan untuk membuat sawah di sekitar desa tersebut tidak ada lahan yang subur.
Akhirnya berdasarkan musyawarah, diutuslah beberapa orang untuk menjelajahinuak(daerah)sekitar untuk mencari tempat berpindah desa.berangkatlah beberapa orang menuju daerag timur dengan memudik air ketahun, dan pada suatu tempat mereka menemukan batang kayu besar yaitu batang tangua.
Kemudian pada keempat sisi tempat tersebut dapat dibuat sawah, lalu mereka buatlah suatu pertanda(tabes) dibawah batang tangua tersebut.Menabes adalah memasang tanda yaitu tiang tiga buah dari kayu dan diatasnya diberi tanda silang dari ranting kayu dan dibakarlah kemenyan dibawahnya,minta petunjuk kepada penunggu taneak tanai yang mana ini tanda(tabes) jika bisa dibuat desa pada daerah ini maka tabes/tanda ini tidak jauh atau roboh,tetapi jika pada tempat tersebut tidak boleh dibuat desa,maka tabes itu akan roboh atau jatuh.
Alhasil,ternyata keesokan harinya tabes tersebut tidak roboh/jatuh.Maka kembalilah orang yang ditugaskan mencari tempat pindah tadi ke desa ulok libea dan langsung kepada raja mangkurat bahwa tempat tinggal desa sudah ada yaitu di bawah batang tangua.Yang mana tuah tempat tersebut adalah tempat persegi desa dapat dibuat sawah,dan desa diapit oleh dua sungai besar yang di mudiki/dinaiki ikan putih.dan itulah sebagai tuah desa bentangur
Kemudian setelah itu,pindahlah desa ulok libea ke desa baru,yaitu desa betangua(bentangur sekarang ini).Tiba di desa bentangur, mulailah masyarakat membuka sawah baru.ada yang membuka sawah arah barat(lot sadei) ada yang membuka arah seberang air uram arah utara(dipoa u'em)ada yang membuka arah timur(ai sadei) dan ada yang membuka arah selatan(dipoa sadei)
Maka tersebutlah istilah pada waktu itu:"sudoh cenakak tun tangua".Artinya :sudah diblokir orang bentangur. Oleh sebab itu hal hal seperti itu orang bias menyebutnya awei cakak tun tangua pengertiannya agak buruk bunyinya tp baik pengertiannya.
adapun sawah baru biasanya sering tidak berhasil karna tanahnya masih berkabut(masih banyak humus humus dan akar kayu).
Setelah beberapa tahun kemudian, antara suku yang bersawah dangan suku yang berkebun dibanding bandingkan, yang mana suku yang berkebun di atas dinamakan suku kayo, itulah suku kayo diatas sekarang.
masyarakat bentangur terdiri dari dua suku, suku kauk dan suku daet.suku kauk yaitu keturunan rio kemulau dan suku daet yaitu keturunan dari kemalobumai. diantaranya yang terkenal dengan durian tebok ucing,durian pohon putih,durian atas batu dan durian sekubung.
Asal Mula Danau Tes
Dikisahkan di Dusun Kutei Donok, Tanah Ranah Sekalawi (atau daerah Lebong sekarang ini), hidup seorang sakti bersama seorang anak laki-lakinya. Oleh masyarakat Kutei Donok, orang sakti itu dipanggil si Lidah Pahit. Ia dipanggil demikian, karena lidahnya memiliki kesaktian luar biasa. Apapun yang dikatakannya selalu menjadi kenyataan. Meski demikian, ia tidak asal mengucapkan sesuatu jika tidak ada alasan yang mendasarinya.
Pada suatu hari, si Lidah Pahit berniat untuk membuka lahan persawahan baru di daerah Baten Kawuk, yang terletak kurang lebih lima kilometer dari dusun tempat tinggalnya. Setelah menyampaikan niatnya kepada para tetangganya dan mendapat izin dari Tuai Adat Kutei Donok, ia pun segera menyiapkan segala peralatan yang akan dipergunakan untuk membuka lahan persawahan baru.
- “Anakku, kamu di rumah saja! Ayah hendak pergi ke daerah Baten Kawuk untuk membuka lahan persawahan baru,” ujar si Lidah Pahit kepada anaknya.
- “Baik, Ayah!” jawab anaknya.
Setelah berpamitan kepada anaknya, si Lidah Pahit pun berangkat dengan membawa kapak, parang, dan cangkul. Sesampainya di daerah Baten Kawuk, ia pun mulai menggarap sebuah lahan kosong yang terletak tidak jauh dari Sungai Air Ketahun. Si Lidah Pahit memulai pekerjaannya dengan menebangi pohon-pohon besar dengan kapak dan membabat semak belukar dengan parang. Setelah itu, ia pun segera mencangkul lahan kosong itu. Tanah-tanah cangkulannya ia buang ke Sungai Air Ketahun.
Setelah dua hari bekerja, si Lidah Pahit telah membuka lahan persawahan seluas kurang lebih setengah hektar. Bagi masyarakat Kutei Donok waktu itu, termasuk si Lidah Pahit, untuk membuka lahan persawahan seluas satu hektar dapat diselesaikan dalam waktu paling lama satu minggu, karena rata-rata mereka berbadan besar dan berotot. Alangkah senang hati si Lidah Pahit melihat hasil pekerjaannya itu.
Pada hari ketiga, si Lidah Pahit kembali ke Baten Kawuk untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia bekerja dengan penuh semangat. Ia tidak memikirkan hal-hal lain, kecuali menyelesaikan pekerjaannya agar dapat dengan segera menanam padi di lahan persawahannya yang baru itu. Namun, tanpa disadari oleh si Lidah Pahit, para ketua adat dan pemuka masyarakat di kampungnya sedang membicarakan dirinya. Mereka membicarakan tentang pekerjaannya yang selalu membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun, sehingga menyebabkan aliran air sungai itu tidak lancar. Kekhawatiran masyarakat Kutei Donok yang paling besar adalah jika si Lidah Pahit terus membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun akan menyumbat air sungai dan mengakibatkan air meluap, sehingga desa Kutei Donok akan tenggelam.
Melihat kondisi itu, ketua adat bersama tokoh-tokoh masyarakat Kutei Donok lainnya segera bermusyawarah untuk mencari alasan agar pekerjaan si Lidah Pahit dapat dihentikan. Setelah beberapa jam bermusyawarah, mereka pun menemukan sebuah alasan yang dapat menghentikan pekerjaan si Lidah Pahit. Maka diutuslah beberapa orang untuk menyampaikan alasan itu kepada si Lidah Pahit. Sesampainya di tempat si Lidah Pahit bekerja, mereka pun segera menghampiri si Lidah Pahit yang sedang asyik mencangkul.
- “Maaf, Lidah Pahit! Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan berita duka,” kata seorang utusan.
- “Berita duka apa yang kalian bawa untukku?” tanya si Lidah Pahit.
- “Pulanglah, Lidah Pahit! Anakmu meninggal dunia. Kepalanya pecah terbentur di batu saat ia terjatuh dari atas pohon,” jelas seorang utusan lainnya.
- “Ah, saya tidak percaya. Tidak mungkin anakku mati,” jawab si Lidah Pahit dengan penuh keyakinan.
Beberapa kali para utusan tersebut berusaha untuk meyakinkannya, namun si Lidah Pahit tetap saja tidak percaya. Akhirnya, mereka pun kembali ke Dusun Kutei Donok tanpa membawa hasil.
- “Maaf, Tuan! Kami tidak berhasil membujuk si Lidah Pahit untuk kembali ke kampung ini,” lapor seorang utusan kepada ketua adat.
- “Iya, Tuan! Ia sama sekali tidak percaya dengan laporan kami,” tambah seorang utusan lainnya.
Mendengar keterangan itu, ketua adat segera menunjuk tokoh masyarakat lainnya untuk menyampaikan berita duka itu kepada si Lidah Pahit. Namun, lagi-lagi si Lidah Pahit tidak percaya jika anaknya telah mati. Ia terus saja mencangkul dan membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun.
Melihat keadaan itu, akhirnya ketua adat bersama beberapa pemuka adat lainnya memutuskan untuk menyampaikan langsung alasan itu kepada si Lidah Pahit. Maka berangkatlah mereka untuk menemui si Lidah Pahit di tempat kerjanya.
“Wahai si Lidah Pahit! Percayalah kepada kami! Anakmu benar-benar telah meninggal dunia,” kata ketua adat kepada si Lidah Pahit.
Oleh karena sangat menghormati ketua adat dan pemuka adat lainnya, si Lidah Pahit pun percaya kepada mereka.
- “Baiklah! Karena Tuan-Tuan terhormat yang datang menyampaikan berita ini, maka saya sekarang percaya kalau anak saya telah meninggal dunia,” kata si Lidah Pahit dengan suara pelan.
- “Kalau begitu, berhentilah bekerja dan kembalilah ke kampung melihat anakmu!” ujar ketua adat.
- “Iya, Tuan! Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya yang tinggal beberapa cangkul ini,” jawab si Lidah Pahit.
Mendengar jawaban itu, ketua adat beserta rombongannya berpamitan untuk kembali ke Dusun Kutei Donok. Setelah rombongan itu pergi, si Lidah Pahit baru menyadari akan ucapannya tadi.
Dalam hati, ia yakin betul bahwa anaknya yang sebenarnya tidak meninggal kemudian menjadi meninggal akibat ucapannya sendiri. Maka dengan ucapan saktinya itu, anaknya pun benar-benar telah meninggal dunia.
Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Ucapan si Lidah Pahit tersebut tidak dapat ditarik kembali. Dengan perasaan kesal, ia pun melampiaskan kemarahannya pada tanah garapannya. Berkali-kali ia menghentakkan cangkulnya ke tanah, lalu membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun.
Setelah itu, ia pun bergegas kembali ke Dusun Kutei Donok hendak melihat anaknya yang telah meninggal dunia. Sesampainya di rumah, ia mendapati anaknya benar-benar sudah tidak bernyawa lagi.
Konon, tanah-tanah yang dibuang si Lidah Pahit itu membendung aliran Sungai Air Ketahun dan akhirnya membentuk sebuah danau besar yang diberi nama Danau Tes.
Demikian cerita Asal Mula Danau Tes dari Provinsi Bengkulu. Hingga kini, Danau Tes menjadi sumber mata pencaharian penduduk Kota Donok.
***
Cerita di atas termasuk ke dalam kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah keburukan sifat mudah percaya pada omongan orang-orang yang berpangkat atau penguasa, “ karena tidak selamanya ucapan seorang penguasa selalu benar ”.
Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku si Lidah Pahit yang mudah percaya dengan laporan ketua adat di kampungnya, sehingga mengakibatkan anak kesayangannya meninggal dunia.
Danau Tes memiliki banyak cerita rakyat berbentuk; legenda, mitos, kepercayaan dan tambo. Sejak zaman dahulu (kepercayaan para leluhur/nenek moyang orang Lebong), Danau Tes dikisahkan merupakan daerah yang angker dan tempat berdiamnya setan.
Danau ini terletak di dua wilayah kemasyarakatan (marga), yaitu Marga Jurukalang dan Marga Bermani. Beratus-ratus tahun kemudian kedua marga itu digabungkan dalam satu marga (hingga sistem kemargaan dihilangkan) menjadi Marga Bermani Jurukalang. Wilayah Marga Bermani Jurukalang itu (salah satu asal suku Rejang puak Lebong) membawahi mulai dari Desa Tapus (Topos, desa tertua di Lebong) sampai Desa Turan Lalang. Sekarang secara administratif Marga Bermani Jurukalang terbagi ke dalam dua wilayah kecamatan: yaitu Kecamatan Rimbo Pengadang dan Kecamatan Lebong Selatan (awalnya hanya wilayah Kecamatan Lebong Selatan).
Bila siang hari, ketika melintas di jalan raya di pinggir Danau Tes, dengan jelas dapat dilihat masyarakat mencari ikan di tengah Danau. Sedangkan yang mencari ikan dengan peralatan kecil, biasanya berada di pinggir-pinggir danau. Di sisi lain, Danau Tes merupakan sarana transportasi air bagi penduduk Kotadonok yang mengolah areal persawahan di kawasan sawah Baten (nama arean pertanian yang terletak diseberang Desa Tes, Taba Anyar, Mubai, dan Turun Tiging). Alat transportasi penduduk ke sawah dengan jarak tempuh sekitar 4 km adalah menggunakan perahu kayu, termasuk untuk mengangkut hasil panen.
Di sepanjang jalan di tepi Danau Tes yang menghubungkan Desa Kotadonok dengan Ibukota Kecamatan Lebong Selatan, Tes sepanjang 5 km yang jalannya adalah jalan utama di Kabupaten Lebong. Dapat disaksikan betapa indahnya panorama Danau Tes. Di sana ada tempat wisata bernama Pondok Lucuk (Pondok Runcing). Penamaan mengikuti bentuk bangunan yang sejak zaman kolonial, bentuk atap seperti kerucut. Luas bangunan sekitar 6x6 meter. Lokasinya berada di sebelah kanan arah jalan dari Kotadonok ke Tes, tepat di pinggir danau.
Potensi Danau Tes didukung dengan pemandangan di sekitar kawasan danau yang terletak di Kecamatan Lebong Selatan. Selain dikelilingi kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Danau Tes juga menyimpan pesona alam yang tak kalah menariknya untuk dikunjungi.
Selain sebagai tempat wisata, Danau Tes juga merupakan pusat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Bengkulu. Danau ini adalah salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Lebong, sekaligus danau terbesar di Provinsi Bengkulu. Danau yang terbentang dari Kutei Donok (Kota Donok) sampai ke Kelurahan Tes Kecamatan Lebong ini luasnya lebih kurang 750 hektare.
Di Danau Tes, pengunjung juga dapat menyaksikan aktivitas penduduk desa di sekitar danau yang mayoritas mata pencahariannya adalah petani dan nelayan. Rutinitas mereka sehari-harinya adalah melakukan kegiatan seperti mengolah sawah, memancing, dan menangkap ikan di danau. Pada setiap tahunnya di penghujung bulan Mei, di tempat ini biasanya diadakan acara ritual panen kizing/tiram air tawar.
Danau Tes mendapatkan suplai air terutama dari Air Ketahun dan Air Pau. Kedua sungai ini bermuara ke danau tes di desa Kota Donok. Vegetasi di pinggiran Air Pau cukup terpelihara, sehingga daerah aliran sungai Air Pau perlu dijaga dan dipantau secara rutin untuk menjamin suplai air yang menuju ke danau. Sementara Air Ketahun yang kanan kirinya berupa berbukitan memungkinkan terjadinya erosi dan pengendapan sedimen yang dibawa ke dalam danau. Beberapa tahun yang lalu terjadi banjir bandang yang banyak membawa material dan masuk ke dalam badan air. Sehingga tampak sekali terjadi pendangkalan badan danau. Hal ini dikuatkan oleh beberapa beberapa orang tua penduduk asli desa Kota Donok. Mereka mengatakan bahwa sewaktu mereka muda kedalam air cukup dalam mungkin lebih dari 6-10 meter, namun saat ini kedalam air tidak lebih dari 2 meter. Keadaan ini dapat dilihat sepanjang pinggiran danau sudah sejak lama terjadi pelebaran pinggiran danau yang sudah ditumbuhi oleh semak, bahkan oleh penduduk sekitar telah diubah menjadi petak-petak. Dengan terjadinya pendangkalan oleh proses sedimentasi yang terus-menerus, maka sewaktu-waktu dapat mengancam fungsi Danau Tes sebagai sumber pembangkit tenaga listrik.
Alkisah, dahulu kala berdiri sebuah kerajaan bernama Kutei Rukam yang dipimpin oleh Raja Bikau Bermano. Sang Raja mempunyai delapan orang putra. Suatu ketika, Raja Bikau Bermano hendak melangsungkan upacara perkawinan putranya yang bernama Gajah Meram dengan seorang putri dari Kerajaan Suka Negeri yang bernama Putri Jenggai. Pihak istana kerajaan Kutei Rukam kemudian menyiapkan segala sesuatunya untuk melangsungkan pernikahan semeriah mungkin.Hingga tibalah hari pernikahan Pangeran Gajah Meram dengan Putri Jenggai.Awalnya upacara pernikahan berjalan lancar. Namun, tiba-tiba saja terjadi sebuah keanehan. Pangeran Gajah Meram dan Putri Jenggai tiba-tiba hilang entah kemana. Saat itu keduanya tengah melakukan upacara prosesi mandi bersama di tempat pemandian Aket di tepi Danau Tes. Tidak seorang pun tahu ke mana hilangnya pasangan itu. Hilangnya Putra Mahkota Gajah Meram dan Istrinya Putri Jenggai secara miterius di pemandian kerajaan Aket di tepi Danau Tes menggemparkan isntana kerajaan Kutei Rukam. Mereka memang sedang menjalani upacara mandi berendam di pemandian itu. Upacara itu merupakan salah satu rangkaian upacara pernikahan antara Putra Mahkota kerajaan Kutei Rukam dan Putri Jenggai dari kerajaan Suka Negeri.Raja kerajaan Kutei Rukam, raja Bikau Bermano, berinisiatif mengadakan pertemuan darurat. Pertemuan itu dihadiri para petinggi dari kerajaan, bendahara, para hulubalang, dan tujuh orang putranya. Kecemasan tampak jelas di raut wajah sang Raja karena anak dan menantunya hilang tanpa jejak."Terima kasih saya ucapkan kepada kalian semua yang sudi menghadiri pertemuan darurat ini. Seperti yang telah kalian ketahui dari kabar yang sudah beredar luas, baik di lingkungan istana maupun di masyarakat luas bahwa Putra Mahkota dan istrinya hilang begitu saja di tepi Danau Tes. Adakah yang dapat memberikan pandangannya mengenai masalah ini?" tanya Raja sambil mengalihkan pendangannya menyapu semua yang hadir di ruang sidang istana. Sang raja sangat berharap ada jalan keluar yang dihasilkan melalui pertemuan itu."Maaf, Baginda Raja. Hamba adalah hulubalang yang bertugas bersama tiga orang pengawal kerajaan yang bertanggung jawab menjaga keselamatan Putra Mahkota dan Putri Jenggai. Sementara keduanya berendam,kami berjaga-jaga di depan pemandian. Akan tetapi, hingga matahari tambah tinggi, mereka belum selesai juga. Hambalah yang masuk ke pemandian untuk memastikan keadaan mereka. Hamba sangat terkejut mendapati Putra Mahkota dan Putri Jenggai tidak ada di pemandian, padahal kami yang menjaga diluar tidak mendengar adanya suara keributan. Hamba dan semua pengawal menyusuri tepian danau untuk mencari mereka. Hasilnya seperti yang Baginda Raja ketahui. Putra Mahkota dan Putri Jenggai belum ditemukan hingga kini." jelas hulubalang yang usianya hampir separuh baya."Aneh memang. Sampai-sampai penjaga yang dekat di lokasi pemandian pun tidak mendengar sesuatu saat putra dan menantuku menghilang" gumam sang Raja."Ampun, Baginda. Hamba ingin menyampaikan pendapat hamba. Mungkin saja, Putra Mahkota dan Putri Jenggai diculik oleh ular raksasa berkepala Tujuh yang menghuni dasar Danau Tes. Pendapat hamba ini didasarkan pada cerita-cerita dari tun tuai (orang tua-tua). Menurut mereka, raja ular itu sangat sakti, licik, kejam dan suka mengganggu beberapa orang yang sedang mandi di Danau Tes. " ujar hulubalang lainnya turut menyumbang pendapatnya.Mendengar raja ular sakti disebut-sebut, suasana pertemuan menjadi gaduh dan ramai. Masing-masing bercerita tentang keberadaan ular sakti itu kepada orang di samping kanan dan kirinya di ruang rapat itu. Ada yang bercerita tetangganya yang di ganggu, saudara, atau orang penting di desanya. Akan tetapi, tidak satupun dari mereka yang pernah menyaksikannya atau sekeda berurusan langsung dengan raja ular di Danau Tes itu. Mereka salin bertukar kabar burung yang belum jelas kebenarannya. Pada dasarnya, cerita Raja ular yang sakti dan suka mengganggu itu bukanlah halyang baru bagi mereka. Melihat suasana rapat yang gaduh, sang Raja kembali bertatih. Sekejap, para peserta pertemuan langsung terdiam."Jika benar apa yang kamu katakan hai Hulubalang, siapakah yang mampu menandingi si Raja ular serta membebaskan Putra Mahkota dan istrinya dari cengkramannya?" ucap baginda Raja kepada semua yang hadir dalam pertemuan itu. Mendengar ucapan sang baginda raja, para peserta pertemuan saling pandang. Pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang sulit di jawab."Maaf Ayahanda, izinkan Ananda pergi ke sarang Raja ular itu untuk menumpasnya dan membawa kakak dan istrinya kembali pulang," ujar putra Bungsu sang Raja yang bernama Gajah Merik.Sang Raja tidak serta merta mengabulkan keinginan Gajah Merik. Di matanya, putra bungsunya itu sangatlah muda belia. Usianya baru Tiga Belas tahun. Penguasaan ilmu pengetahuan dan ilmu kesaktian tidaklah diragukan lagi, tetapi menantang Raja ular yang sakti itu soal lain. Dipandanginya kembali lekat-lekat raut wajah Gajah Merik. Dari sorot matanya, sang Raja melihat semangat yang menggebu-gebu,keberanian yang luar biasa, serta kekerasan hatinya. Tidak sampai hati sang Raja mematikan itu semua hanya karena dia masih sangat belia sehingga tidak di beri izin."Maaf Ayahanda. Sekali lagi, izinkanlah hamba menumpas Raja ular itu." Ujar Gajah Merik mengulang perkataannya karena sang baginda tidak segera menanggapi keinginannya.Sebenarnya, bukan hanya Raja yang terkejut mendengar perkataan putra bungsu, para peserta juga sangat terkejut. Sebab, usianya masih sangat muda, tetapi dialah yang paling berani diantara putra-putra Raja lainnya."Baiklah, anakku Gajah Merik. Ayahanda izinkan ananda pergi memerangi Raja ular dan menyelamatkan kakakmu serta istrinya, tetapi ada satu syarat yang harus ananda penuhi. Ananda harus bertapa terlebih dahulu di Tepat Topes selama tujuh hari tujuh malam untuk mendapatkan senjata pusaka sebagai bekal dalam menghadapi kesaktian Raja ular," ujar Raja Bikau Bermano."Ananda patuh memenuhi syarat itu, Ayahanda," kata Gajah Merik singkat saja. Tekadnya sudah bulat suhingga syarat yang di lontarkan sang Raja bukanlah suatu hal yang memberatkannya."kepala pengawal, siapkan empat pengawal terbaik untuk mengamankan dan mengawal putraku Gajah Merik bertapa di Tepat Topes, titah sang Raja kepada pengawal. Tepat Topes yaitu suatu wilayah di antara Ibu Kota kerajaan Suka Negeri dan kampung Baru."Siap Baginda. Hamba akan melaksanakan titah baginda itu dengan sebaik-baiknya," sahut sang kepala pengawal patuh.Esok harinya, Gajah Merik yang dikawal empat pengawal terbaik kerajaan berangkat ke tempat pertapaan. Tiba di Talang Macan, Gajah Merik memutuskan berpisah dengan para pengawalnya. Dia selanjutnya meneruskan perjalanan ke Tepat Topes dan bertapa disana. Usai menuntaskan tujuh hari tujuh malam bertapanya, Gajah Merik mendapatkan dua senjata pusaka. Senjata pertama adalah sebilah keris yang memiliki kesaktian sebagai penuntun Gajah Merik menyelam ke dasar Danau layaknya berjalan normal seperti di daratan. Senjata kedua adalah sehelai selendang yang dapat berubah wujud menjadi pedang jika diucapkan mantra khusus. Gajah Merik segera turun dari pertapaannya menuju Talang Macan untuk bergabung dengan pengawalnya dan kembali ke istana. Ketika dari kejauhan Gajah Merik sudah melihat para pengawalnya, dia berubah pikiran. Gajah Merik sudah tidak sabar ingin langsung ke tepi Danau Tes sendirian saja. Oleh karena itu, dia menyelam ke sungai Air Ketahun. Tubuhnyapun tidak tersentuh air.Gajah Merik sampai di Danau Tes tanpa memakan waktu yang lama. Dia langsung terjun ke dasar tempat pemandian kerajaan di tepi Danau Tes. Tepat di dasar danau, Gajah Merik menemukan gerbang istana Raja ular. Gerbang itu dijaga ular-ular besar penjaga istana."Heh...siapa kamu? Berani sekali memasuki wilayah Raja ular yang memiliki 7 kepala. Mencari mati, kamu ya?" Bentak ular pengawal garang.Sesungguhnya, ular pengawal itu kaget bukan kepalang berjumpa anak manusia yang berhasil menyusup ke istana Raja ular yang letaknya ada di dasar danau. Pasti, anak ini memiliki kesaktian yang luar biasa, pikirnya dalam hati."Saya Gajah Merik, kalianlah yang mencari mati jika berani menghalangi saya bertemu dengan Rajamu. Rasakan ini," gertak Gajah Merik membalas bentakan ular pengawal. Gajah Merik menyerang para ular pengawal dan berhasil mengalahkan mereka dengan mudah dan hanya dalam 1 pukulan.Setelah mengalahkan ular pengawal di gerbang istana, Gajah Merik menerobos kedalam istana yang berbentuk gua yang besar dan luas. Sebelum ketempat Raja ular berada, rupanya Gajah Merik harus melalui enam gerbang lagi yang dijaga ketat para ular pengawal yang kuat dan sakti. Gajah Merik berhasil melalui enam gerbang itu dan sampailah ke kediaman Raja ular. Asap tebal menggulung di hadapan Gajah Merik. Seiring menipisnya asap, wujud ular raksasa berkepala tujuh menyeruak. Wujudnya sangat besar suaranya menggema dan menggetarkan dinding-dinding istana, dan sangat menakutkan."Rupanya kamu bocah tengik yang berani mengacak-ngacak istanaku. Sudah bosan hidup kamu?!!" ancam Raja ular marah luar biasa.Suara Raja ular menggelegar, Meneggakkan bulu kuduk bagi yang mendengarkannya. Berhadapan langsung dengan Raja ular raksasa berkepala tujuh tidaklah menyurutkan langkah Gajah Merik. Di acungkanlah keris sakti miliknya sebagai tanda Gajah Merik menantang Raja ular itu berduel dengannya."Hei...makhluk terkutuk, saya datang untuk melenyapkanmu dari muka bumi ini sekaligus membawa pulang Kakakku dan istrinya yang telah kau culik dan kau sembunyikan dalam istanamu ini!" teriak Gajah Merik tidak kalah hebat gertakannya kepada wujud ular raksasa di hadapannya."ha...ha..lucu sekali ucapanmu itu, bocah tengik.! Aku berjanji akan menyerahkan Kakakmu dan istrinya itu jika kamu dapat menghidupkan kembali para ular penjaga yang telah kau tumpas tadi. dan tentu saja kau harus mengalahkanku," ujar Raja ular meremehkan Gajah Merik.Usai berkata demikian, Raja ular tertawa terbahak-bahak sampai-sampai tubuhnya berguncang-guncang."Tertawalah sampai puas, hai Raja ular yang sombong.! Lihatlah ini!," teriak Gajah Merik.Dikebutkannya selendang yang sedari dari bertengger di bahu kirinya. Dalam sekali kebutan, para ular penjaga yang telah tewas hidup kembali. Melihat kesaktian Gajah Merik yang luar biasa itu, tawa Raja ular terhenti berganti berang. Harga dirinya seperti diinjak-injak oleh seorang anak kecil. Diserangnya Gajah Merik dengan jurus andalannya. Kini, sang Raja ular menyadari dirinya tidak boleh main-main lagi dalam menghadapi Gajah Merik. Perkelahian antara Gajah Merik dan Raja ular berlangsung sangat sengit. Mereka saling serang, saling terjang, dan saling adu kesaktian. Sampailah pada hari kelima, Raja ular mulai terlihat kelelahan. Energinya mulai terkuras, sedangkan Gajah Merik masih tetap prima dan tambah digdaya. Pukulan dan serangan Gajah Merik beberapa kali mengenai sasaran. Pertahanan Raja ular mulai kedodoran disana sini. Sampailah pada puncaknya, Gajah Merik ingin mengakhiri perkelahian yang sangat melelahkan itu. Dimantrainya selendang sihingga berubah menjadi pedang yang mampu mencederai tubuh Raja ular. Raja ular tersurut mundur beberapa langkah ke belakang. Wujudnya bersalin rupa ke wujud sosok manusia. Kaki kirinya terluka parah terkena sabetan pedang. Dilambai-lambaikan kedua tangannya tanda menyerah. Gajah Merik menolong dan mendudukkannya. Raja ular mengaku kalah dan mengatakan suatu tempat dalam istana tempat Putra Mahkota dan istrinya disandera. Gajah Merik bergegas ke tempat yang dimaksud dan berjumpa dengan kakaknya. Sementara itu, Raja ular duduk bersemedi berusaha mengobati lukanya.Di tempat lain di istana kerajaan Kutei Rukam, Raja dan permaisurinya dilanda kecemasan yang mendalam. Setelah putra sulungnya menghilang, tiada kabar pula tentang putra bungsunya. Seharusnya setelah tujuh hari tujuh malam bertapa, Gajah Merik kembali ke istana, tetapi hingga kini belum kelihatan batang hidungnya. Hingga beberapa hari kemudian, datanglah kabar yang membahagiakan hati dan melegakan. Seorang pengawal berlari tergesa-gesa ingin segera mengabarkan kepada sang Raja, Putra Mahkota Gajam Meram dan istrinya Putra Jenggai, serta Gajah Merik telah muncul ke permukaan Danau Tes dengan selamat. Rupanya setelah bertapa, Gajah Merik langsung ke tempat Raja ular. Setelah sampai kabar gembira itu ke telinga sang Raja, istana disibukkan dengan upacara penyambutan.Sorak-sorai kemenangan mengiringi langkah Putra Mahkota Gajah Meram dan istrinya Putri Jenggai, serta Gajah Merik menuju istana. Wajah ketiganya sumringah karena telah terbebas dari kungkungan Raja ular. Setibanya di istana, mereka di sambut dengan upacara penyambutan. Peluk cium mewarnai kepulangan mereka. Pada saat yang berbahagia itulah, Raja menobatkan Putra Mahkota Gajah Meram menjadi Raja menggantikan dirinya. Gajah Meram menolak penobatan itu. Menurutnya, adik bungsunyalah yang lebih berhak menjadi Raja."Ayahanda, bukanlah ananda berlaku lancang. Gajah Meriklah yang lebih pantas menjadi Raja. Karena dengan jiwa kepahlawanannya, dia memberikan sumbangsih yang besar kepada kerajaan ini serta keberaniannya dapat menyelamatkan ananda dan Putri Jenggai," tutur Gajah Meram dengan penuh bijaksana.Baginda Raja menyetujui usulan Gajah Meram. Baginda Raja memahkotai dan menobatkan Gajah Merik menjadi seorang Raja. Kemudian, Gajah Merik menunjuk Raja ular yang telah dikalahkannya dan para pengawal nya menjadi hulubalang kerajaan.Kisah heroik Gajah Merik bertempur dengan Raja ular melahirkan legenda tentang ular raksasa berkepala tujuh sebagai penunggu Danau Tes. Oleh karena itu, hingga kini khususnya masyarakat Lebong selalu menjaga perkataan saat melintasi Danau Tes.
asal mula pohon enau
Menurut cerita Suku Rejang. Dahulu kala di sebuah desa terpencil hidup tujuh orang bersaudara. Nasib mereka sungguh malang, mereka sudah tidak memiliki ayah dan ibu semenjak si bungsu lahir. Tujuh saudara itu terdiri dari enam orang laki-laki dan seorang perempuan dan si bungsu adalah yang perempuan. Namanya Putri Sedaro Putih. Mereka hidup sebagai petani dengan menggarap sebidang tanah di tepi hutan.
Putri Sedaro Putih sangat disayangi oleh keenam kakaknya. Mereka selalu melindungi si bungsu ini dari segala macam marabahaya, apapun yang terjadi mereka siap berkorban untuk adik perempuan nya itu. Putri Sedaro Putih adalah gadis yang cantik jelita, berbudi luhur dan rajin bekerja, walaupun segala kebutuhan nya di penuhi oleh kakak kakak nya tetapi Putri Sedaro Putih tidaklah suka berpangku tangan begitu saja, ia selalu membantu kakak kakaknya bekerja.
Pada suatu malam, ketika Putri Sedaro Putih tidur, ia bermimpi serasa didatangi seorang laki-laki tua yang mengaku sebagai kakek nya.
"Putri Sedaro Putih cucuku, hidupmu tidaklah lama lagi karena itu bersiaplah engkau untuk menghadapinya." kata kakek tersebut.
"Kenapa begitu kakek ?" tanya putri sedaro putih
"Karena sudah takdirmu wahai cucuku" ucap kakeknya dengan lemah lembut. "ketahuilah wahai cucuku, setelah engkau meninggal kelak, maka dari pusaran kuburanmu nanti akan tumbuh sebatang pohon yang belum pernah ada pada sebelumnya. Pohon itu akan banyak memberi manfaat bagi umat manusia."
Setelah memberi pesan demikian kemudian kakek tersebut menghilang. Sementara Putri Sedaro Putih langsung terbangun dari tidurnya. Ia duduk termangu memikirkan arti mimpinya. Putri Sedaro Putih sangat terkesan akan mimpinya itu, sehingga setiap hari ia selalu terbayang akan kematiannya. Makan dan minum pun tak teringat olehnya. Hal ini mengakibatkan tubuhnya menjadi kurus dan pucat. Saudara sulung sebagai pengganti orang tuanya sangat memperhatikan Putri Sedoro Putih. Ia menanyakan apa sebab adiknya sampai bersedih hati seperti itu.
"Ada apa wahai adik ku, kenapa engkau bersedih ? katakanlah kepada kakak mu ini, apa yang engkau inginkan, akan kami berikan untukmu wahai adikku" ucap kakaknya sembari membelai rambut Putri Sedaro Putih.
Putri Sedaro Putih hanya diam saja.
"Apakah engkau sakit wahai adik ku ?" lanjut kakak Putri Sedaro Putih mengkhawatirkan kondisi adiknya.
Dengan menangis tersedu-sedu Putri Sedaro Putih menceritakan semua mimpi yang dialamainya beberapa waktu yang lalu.
"Kalau cerita dalam mimpi itu benar, bahwa dari tubuhku akan tumbuh pohon yang mendatangkan kebahagiaan orang banyak, aku rela berkorban untuk itu." Kata sedaro putih tersedu sedu.
"Tidak adikku, jangan secepat itu kau tinggalkan kami. Kita akan hidup bersama, sampai kita memperoleh keturunan masing-masing sebagai penyambung generasi kita. Lupakanlah mimpi itu. Bukankah mimpi sebagai hiasan tidur bagi semua orang ? jangan sampai menganggu kesehatanmu. " kata kakak Putri Sedaro Putih menghibur adiknya.
Hari-haripun berlalu tanpa terasa. Mimpi itu pun telah dilupakan. Putri Sedaro Putih telah kembali seperti sempula, seorang gadis periang yang senang bekerja di ladang. Hasil panen pun telah dihimpun sebagai bekal mereka selama semusim.
Pada suatu malam, tanpa menderita sakit terlebih dahulu Putri Sedaro Putih meninggal dunia. Keesokan harinya, keenam saudaranya menjadi gempar dan meratapi adik kesayangannya itu. Mereka menguburkannya tidak jauh dari rumah kediaman mereka. Seperti telah diceritakan oleh Putri Sedaro Putih. Di tengah pusaranya tumbuh sebatang pohon asing. Mereka belum pernah melihat pohon seperti itu. Pohon itu mereka pelihara dengan penuh kasih sayang seperti merawat Putri Sedaro Putih. Pohon itu mereka beri nama Sedaro Putih. Disamping pohon itu, tumbuh pula pohon kayu kapung yang sama tingginya dengan pohon Sedaro Putih. Pohon itu pun dipelihara sebagai pohon pelindung .
Lima tahun kemudian. Pohon Sedaro Putih mulai berbunga dan berbuah. Jika angin berhembus, dari dahan kayu kapung selalu memukul tangkai buah Sedaro Putih sehingga menjadi memar dan terjadilah peregangan. Sel-sel yang mempermudah air pohon Sedaro Putih mengalir ke arah buah.
Pada suatu hari, seorang saudara Sedaro Putih berziarah ke kuburan itu. Ia beristirahat melepaskan lelah sambil memperhatikan pohon kapung selalu memukul tangkai buah pohon Sedaro Putih ketika angin berhembus. Pada saat itu, datang seekor tupai menghampiri buah pohon Sedaro putih dan menggigitnya sampai buah itu terlepas dari tangkainya. Dari tangkai buah yang terlepas itu, keluarlah cairan berwarna kuning jernih. Air itu dijilati tupai sepuas -puasnya. Kejadian itu diperhatikan saudara Sedaro Putih sampai tupai tadi pergi meninggalkan tempat itu.
Saudara Putri Sedaro Putih mendekati pohon itu. Cairan yang menetes dari dari tangkai buah ditampungnya dengan telapak tangan lalu dijilat untuk mengetahui rasa air tangkai buah itu. Ternyata, air itu terasa sangat manis. Dengan muka berseri ia pulang menemui saudara-saudaranya. Semua peristiwa yang telah disaksikannya, diceritakan kepada saudara-saudaranya. Cerita itu sungguh menarik perhatian mereka. Lalu mereka pun sepakat untuk menyadap air tangkai buah pohon sedaro putih. Tangkai buah pohon itu dipotong dan airnya yang keluar dari bekas potongan ditampung dengan tabung dari seruas bambu yang disebut tikoa. Setelah sutu malam, tikoa itu hampir penuh. Perolehan pertama itu mereka nikmati bersama sambil berbincang bagaimana cara memperbanyak ketika berziarah ke kubur putri sedaro putih.
Pertama tama, mereka menggoyang goyang kan tangkai buah pohon Sedaro Putih seperti dilakukan oleh angin. Lalu memukul tangkai buah itu dengan kayu kapung seperti yang terjadi ketika kayu kapung dihembus angin. Akhirnya, mereka memotong tangkai buah seperti dilakukan oleh tupai. Tabung bambu pun digantungkan disana. Ternyata, hasilnya sama dengan sadapan pertama. Perolehan mereka semakin hari semakin banyak karena beberapa tangkai buah yang tumbuh dari pohon Sedaro Putih sudah mendatangkan hasil. Akan tetapi, timbul suatu masalah bagi mereka, karena air sadapan itu akan masam jika disimpan terlalu lama. Lalu, mereka sepakat untuk membuat suatu percobaan dengan memasak air sadapan itu sampai kental. Air yang mengental itu didinginkan sampai keras membeku dan berwarna kekuningan.
Semenjak itu, pohon Sedaro Putih dijadikan sumber air sadapan yang manis. Pohon itu kini dikenal sebagai pohon enau atau pohon aren. Air yang keluar dari tangkai buah dinamakan nira, sedangkan air nira yang dimasak sampai mengental dan membeku disebut gula merah.
Keterangan :
Tikoa = tabung yang di buat dari seruas bambu
Buah Sidaro putih ini adalah buah beluluk / kolang kaling yang dikenal di masyarakat Rejang.
Banyak Manfaat pohon enau atau pohon aren ini, selain Buahnya dapat dibuat manisan yang lezat atau campuran kolak, khususnya pada saat bulan ramadhan. Ijuknya bisa di buat sapu, juga tali untuk mengikat kerbau, keset kaki, atap dan kuas cat, dan dapat digunakan juga sebagai atap rumah dan Tulang daunnya bisa dibuat sapu lidi.
itulah kumpulan cerita rakyat lebong yang bisa saya uraikan dan masih banyak cerita lainnya yang akan saya tulis pada kesempatan waktu.maklum udah pegel dari tadi ngetik lumayan capek ni jari....hehehehehe kok ngeluh ya..!!!!
terletak antara desa tunggang dan desa air kopras (sekarang) dan desa ini terletak di pinggir sungai ketahun.desa ulok libea di perintah oleh seorang yang bergelar rajo mankurat adalah keturunan dari keramat lebong.
No comments:
Post a Comment